Kesepakatan Harga PLTS Cirata Molor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, 6 April 2016. Saat ini PLTS ini dikonversikan dengan PLTD. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Petugas memeriksa panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, 6 April 2016. Saat ini PLTS ini dikonversikan dengan PLTD. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pembangkitan Jawa Bali, anak usaha PT PLN (Persero) menyatakan sampai saat ini belum ada kesepakatan jual beli listrik untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di waduk Cirata, Jawa Barat. Akad jual beli seharusnya diteken pada bulan lalu. 
     
    "Progresnya sudah tanda tangan Project Development Agreement dan proses Share Holder Agreement serta pembentukan special purpose company (SPC)" ujar Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara kepada Tempo, Selasa 27 Maret 2018. Iwan tidak menjelaskan kenapa penandatanganan perjanjian tidak sesuai target. 
     
    Iwan mengatakan perusahaannya bakal mengajukan harga jual listrik sekitar 75 persen dari biaya pokok produksi pembangkitan Jawa Barat. Menurut dia, perusahaan tidak akan mengajukan harga lebih dari itu karena melampaui batas yang diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 50 Tahun 2017.
     
     
    Kepala Eksekutif Masdar Mohamed Jameel Al Ramahi sebelumnya enggan menyebut berapa harga listrik PLTS Cirata yang diusulkan perusahaan. Dia optimistis besarannya bisa di bawah US$ 10 sen per kWh. "Kami masih berdiskusi soal solusi teknis proyek ini sehingga belum bisa bicara soal harga sekarang. Tapi saya menjamin solusi dari kami akan menarik," ujarnya.
     
    Sebelumnya, Wakil Menteri Energi Arcandra Tahar menginginkan Masdar bisa membawa teknologi PLTS murah ke Indonesia. Paling tidak, harganya berada di bawah biaya pokok penyediaan pembangkitan listrik sebesar US$ 6,5 sen per Kilo Watt jam (KWh) Uni Emirat Arab tengah mengembangkan PLTS 150 MW dan 200 MW. Listrik dari pembangkit sebesar itu hanya dihargai US$ 2,42 sen per kWh. 
     
    Pembangkit rencananya akan menyuplai listrik ke sistem Jawa-Bali hingga 200 megawatt (MW). Iwan  mengatakan, kesepakatan sudah didahului oleh studi kelayakan teknis pembangkit pada September lalu. Meski PJB adalah anak usaha PLN, pembangkit tetap dikembangkan melalui skema pengembangan listrik swasta (independent power producer). 
     
    Proyek bakal menelan biaya hingga US$ 300 juta dolar. Angka ini diklaim Iwan lebih murah lantaran perusahaan tidak memerlukan ongkos pembebasan lahan. Waduk Cirata sendiri adalah aset PLN yang dikelola PJB. 
     
    Konstruksi pembangkit mencapai empat tahap. PLN menargetkan konstruksi tahap satu sebesar 50 MW rampung pada kuartal II 2019. Proyek diharapkan selesai pada setahun setelahnya.
     
    Meski menjadi andalan PLN, proyek ini belum tercantum dalam rencana pembangunan pembangkit di Jawa Barat. Berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027, PLN hanya menyatakan bakal mengembangkan PLTS sebesar 150 MW dengan target operasi tahun 2023. Namun skema pengembangannya masih belum jelas (unallocated).
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.