2019, Kereta Bandara Soetta Akan Melewati Stasiun Manggarai

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (KA Basoetta) tiba di Stasiun Sudirman Baru saat uji coba perdana di Jakarta, 25 November 2017. Uji coba perdana pengoperasian Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta ini untuk menguji jalur yang dilalui sebelum diresmikan oleh Menteri BUMN pada awal Desember. ANTARA FOTO

    Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (KA Basoetta) tiba di Stasiun Sudirman Baru saat uji coba perdana di Jakarta, 25 November 2017. Uji coba perdana pengoperasian Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta ini untuk menguji jalur yang dilalui sebelum diresmikan oleh Menteri BUMN pada awal Desember. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kereta Bandara Soekarno-Hatta direncanakan akan melewati Stasiun Manggarai pada awal tahun 2019.

    "Awal 2019 Manggarai bisa untuk KA (kereta api) bandara," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri di Jakarta, Senin, 26 Maret 2018.

    Dia mengatakan saat ini kereta bandara baru bisa diakses dari Stasiun Sudirman Baru (BNI City) karena masih dilakukan pembangunan jalur rel dwi ganda (double-double track) di Stasiun Manggarai.

    Baca juga: Menhub: Waktu Tempuh Kereta Bandara Dipercepat Jadi 38 Menit

    Kereta bandara Soekarno-Hatta diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Januari 2018, setelah sebelumnya diuji coba sejak 26 Desember 2017 dengan jadwal keberangkatan pertama pukul 03.47 WIB dari Stasiun Sudirman Baru (BNI City) dengan tarif promo Rp 30 ribu, sedangkan mulai 2 Januari 2018 ditetapkan tarif Rp 70 ribu.

    Kereta bandara terdiri dari enam gerbong per rangkaian yang bisa menampung 272 penumpang dan melakukan 42 kali perjalanan.

    Pada pengoperasiannya, kereta bandara beroperasi atau menaikturunkan penumpang di tiga stasiun, yaitu Stasiun Sudirman Baru (BNI City), Stasiun Batu Ceper, dan Stasiun Soekarno-Hatta.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.