Peluang dan Ancaman Perang Dagang AS-Cina untuk Indonesia

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping dan Presiden AS, Donald Trump. REUTERS

    Presiden Cina, Xi Jinping dan Presiden AS, Donald Trump. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dapat memberi keuntungan serta ancaman bagi Indonesia. Menurut Fithra, penetapan tarif terhadap produk-produk Cina oleh AS memungkinkan Cina akan mengalihkan pasarnya ke negara lain.

    "Salah satunya adalah pasar di ASEAN, dan yang terbesar adalah di Indonesia," kata Fithra di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Maret 2018.

    Baca: Perang Dagang Amerika Cina, Indonesia Bisa Lirik Partner Lain

    Pengalihan itu disebut dapat menguntungkan pelaku industri dalam negeri, khususnya dengan kehadiran produk aluminium dan baja. Menurut Fithra, pelaku industri yang diuntungkan adalah industri yang menggunakan aluminium dan baja sebagai barang input dalam proses produksi.

    Kehadiran aluminium dan baja dari Cina akan membuat harga di pasar menjadi lebih kompetitif. "Kemungkinan akan menurunkan ongkos produksinya," katanya.

    Namun, di sisi lain kata Fithra, kehadiran produk Cina nantinya akan mempengaruhi performa industri aluminium dan baja dalam negeri. Untuk itu, dia mengatakan perlunya penguatan industri khususnya sektor manufaktur. "Tidak bisa tidak, kita harus meningkatkan level kompetitif kita," katanya.

    Pada Kamis 22 Maret 2018, Presiden Donald Trump menandatangani Surat Keputusan sebagai jalan untuk menerapkan tarif perdagangan senilai US$ 60 miliar bagi seluruh barang Cina yang masuk ke negaranya.

    Merespon Trump, Kementerian Perdagangan Cina akan menerapkan tarif sebesar US$ 3 miliar atas impor baja dan aluminium asal AS. Cina juga akan menerapkan tarif tambahan 15 persen terhadap produk AS termasuk buah kering, anggur dan pipa baja serta tambahan 25 persen untuk produk daging babi dan aluminium daur ulang.

    Sebanyak 128 produk AS telah telah didaftarkan Cina untuk dikenakan tarif jika kedua negara tak bisa mencapai kata sepakat soal tarif dagang. Cina dikabarkan akan menerapkan pemberian tarif tersebut secara bertahap.

    Pertama, pemberian tarif 15 persen untuk 120 produk Amerika Serikat termasuk pipa baja dan minuman anggur sebesar US$ 977 juta atau sekitar Rp 13,5 triliun. Kedua, memberikan tarif lebih tinggi yakni 25 persen sebesar US$ 1,99 miliar atau sekitar Rp 27 triliun untuk produk babi dan aluminium.

    Fithra mengatakan, ancaman lain yang harus diantisipasi pemerintah terhadap kondisi AS-Cina itu ada dalam sektor finansial. "Harus ada bauran kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah," katanya.

    Fithra menjelaskan, potensi dampak finansial muncul karena Cina mengancam akan mengevaluasi kepemilikan surat utangnya terhadap AS. Menurut dia, evaluasi tersebut berpotensi menimbulkan keguncangan pasar obligasi yang berdampak pada meningkatnya prospek suku bunga internasional. "Secara fundamental akan mempengaruhi kondisi perusahaan yang di IHSG," katanya.

    Baca berita lainnya tentang Perang Dagang di Tempo.co.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Konsumsi Daging Secara Global, Australia Paling Banyak

    Menurut Data Food and Agriculture Organization of the United Nation, rata-rata orang Australia mengkonsumsi 116 kg daging selama setahun.