Bahas Utang, Sri Mulyani: Analisis Tak Lengkap Bisa Menyesatkan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi sambutan usai menyerahkan piagam penghargaan Wajib Pajak kepada di Gedung Radjiman Wedyodiningrat, Jakarta, 13 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi sambutan usai menyerahkan piagam penghargaan Wajib Pajak kepada di Gedung Radjiman Wedyodiningrat, Jakarta, 13 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani angkat bicara soal utang negara yang belakang ini menjadi sorotan dan membuat panik masyarakat. Dia menuturkan bahwa menyoroti instrumen utang tanpa melihat konteks besar dan upaya arah kebijakan pemerintahan, jelas memberikan kualitas analisis dan masukan yang tidak lengkap dan bahkan dapat menyesatkan.

    “Lebih buruk, kita dapat mengerdilkan pemikiran dan menakut-nakuti masyarakat untuk tujuan negatif bagi bangsa kita sendiri. Itu bukan niat terpuji,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 23 Maret 2018.

    Simak: Sri Mulyani Curigai Bahasan Utang Dimanfaatkan Elite Politik

    Sri Mulyani berterima kasih kepada pihak-pihak yang peduli terhadap kondisi utang negara. Namun, jika analisis yang tidak komprehensif memuat keresahan di masyarakat, tidak akan memberikan dampak positif untuk masyarakat. “Sebagai Menteri Keuangan saya berterima kasih atas berbagai analisis, masukan, dan bahkan kritikan,” tutur dia.

    Utang, kata Sri Mulyani, merupakan instrumen kebijakan dalam pengelolaan keuangan negara dan perekonomian. Utang bukanlah tujuan dan bukan juga instrumen kebijakan satu-satunya dalam pengelolaan perekonomian. “Dalam konteks keuangan negara dan neraca keuangan pemerintah, banyak komponen lain selain utang yang harus juga diperhatikan,” ujar dia.

    Sri Mulyani menilai perdebatan soal utang negara yang telah menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Dia ingin menduduki masalah tersebut, agar masyarakat dan elite politik tidak terjangkit histeria dan kekhawatiran berlebihan yang menyebabkan kondisi masyarakat menjadi tidak produktif.

    Menurut Sri Mulyani, jika tujuan menyoroti utang negara untuk membuat masyarakat resah, ketakutan, dan penjadi panik, hal tersebut merupakan upaya politik destruktif. “Sungguh tidak sesuai semangat demokrasi yang baik dan membangun,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.