Perang Dagang Amerika VS Cina, IHSG Anjlok Hingga 2 Persen

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Jumat, 23 Maret 2018, dipicu oleh faktor eksternal, yaitu perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina.

    Head of Research MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan setelah adanya kepastian mengenai kenaikan suku bunga AS oleh The Fed, para investor kembali dibuat panik dengan perang dagang dua negara adidaya tersebut.

    "Market khawatir tentang perang dagang kedua negara ini. Setelah ada kepastian The Fed, pasar kembali turun karena faktor ini," katanya, Jumat, 23 Maret 2018.

    Baca juga: Aksi Lepas Saham Masih Ramai, IHSG Lanjutkan Pelemahan

    Setelah pengenaan tarif impor produk baja dan aluminium, AS tengah menyusun pengenaan tarif tambahan sekitar US$ 60 miliar terhadap Cina. Sementara itu, Cina juga tengah menyiapkan kebijakan balasan.

    Negeri Panda itu dikabarkan akan melakukan balasan dengan pengenaan tarif tinggi untuk impor kedelai. Tahun lalu, ekspor kedelai AS terhadap Cina mencapai US$ 12,4 miliar.

    "Faktor lain yang membuat investor khawatir adalah adanya rencana bank sentral Cina menaikkan suku bunga acuan. Inilah yang menyebabkan IHSG turun," ujarnya.

    Hari ini, pergerakan indeks berada di kisaran 6140-an. Pagi tadi, IHSG mengalami penurunan lebih dari 2 persen. Pelemahan masih terus terjadi hingga akhir perdagangan sesi I meskipun mulai menipis.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.