Penelitian UI: Go-Jek Sumbang Rp 9,9 T ke Perekonomian

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemudi Go-Jek duduk saat mereka menunggu pesanan mereka di sebuah warung makan di Jakarta, 13 Juli 2017. Sebagian besar bisnis Go-Jek dipusatkan di Jakarta, namun perusahaan ini juga memiliki operasi yang lebih kecil di 24 kota lainnya, memanfaatkan kekurangan transportasi dan logistik yang menghambat perekonomian Indonesia. REUTERS/Beawiharta

    Pengemudi Go-Jek duduk saat mereka menunggu pesanan mereka di sebuah warung makan di Jakarta, 13 Juli 2017. Sebagian besar bisnis Go-Jek dipusatkan di Jakarta, namun perusahaan ini juga memiliki operasi yang lebih kecil di 24 kota lainnya, memanfaatkan kekurangan transportasi dan logistik yang menghambat perekonomian Indonesia. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Maraknya penggunaan aplikasi transportasi online Go-Jek berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian Indonesia. Menurut penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), Go-Jek berkontribusi hingga Rp 9,9 triliun per tahun terhadap perekonomian Indonesia.

    Penelitian dilakukan pada Oktober-Desember 2017 dengan sampel 3.315 pengemudi roda dua, 3.465 konsumen, dan 806 mitra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang tergabung dalam fitur Go-Food. Para responden tersebut tersebar di sembilan wilayah, yakni Bandung, Bali, Balikpapan, Jabodetabek, Yogyakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya.

    Baca: 7 Bank Ini Bakal Pungut Biaya Top Up Go-Pay

    Penelitian yang bekerja sama dengan Go-Jek Indonesia ini memiliki margin of error di bawah 5 persen. Meski begitu, penelitian ini hanya mencakup layanan transportasi Go-Ride dan Go-Food.

    Manajer penelitian, Paksi Walandouw, menyebutkan Go-Jek berkontribusi terhadap perekonomian melalui penghasilan mitra pengemudi dan mitra UMKM. Go-Jek menyumbang Rp 8,2 triliun per tahun atau Rp 682,6 miliar sejak mitra pengemudi bergabung.

    Sedangkan penghasilan mitra UMKM yang tergabung dalam Go-Jek berkontribusi hingga 1,7 triliun per tahun atau 138,6 miliar per bulan. “Jumlah hasil kontribusi itu didapat dengan menanyakan berapa jumlah penghasilan sebelum dan sesudah bergabung dengan Go-Jek kepada pengemudi dan UMKM,” kata Paksi dalam pemaparannya di Hong Kong Café, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Maret 2018.

    Berdasarkan data dari pemerintah daerah yang diolah peneliti, pendapatan rata-rata mitra pengemudi penuh waktu mencapai Rp 3,48 juta per bulan. Angka itu lebih besar 1,25 kali dibanding rata-rata upah minimum kota di sembilan wilayah survei, yang hanya Rp 2,8 juta per bulan.

    Setelah bergabung dengan Go-Jek, rata-rata pendapatan mitra pengemudi meningkat hingga 44 persen. Sedangkan pengeluaran mitra pengemudi meningkat hingga 31 persen.

    Go-Jek juga mendorong mitra UMKM beroperasi secara online sehingga lebih efisien dan mendapat pangsa pasar lebih besar. Volume transaksi mitra UMKM meningkat 85 persen dibanding sebelum bergabung dengan Go-Jek. “Sebesar 85 persen di antaranya mengalami peningkatan lebih dari 5 persen,” ujar Paksi. Selain itu, kata dia, 43 persen mitra UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?