Enggartiasto Ancam Norwegia bila Lakukan Proteksi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ungkap pengakuan dosanya ketika ditanya lebih baik memilih menjadi petani atau pedagang beras.

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ungkap pengakuan dosanya ketika ditanya lebih baik memilih menjadi petani atau pedagang beras.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengantisipasi kebijakan proteksionisme dari negara lain. Sebagai langkah antisipasi, Enggartiasto mengingatkan pemerintahan Norwegia saat menghadiri pertemuan informal ministerial World Trade Organization, yang diselenggarakan pemerintah India di New Delhi pada 20 Maret 2018.

    Enggartiasto melanjutkan, Indonesia akan memproteksi Norwegia bila negara tersebut melakukan hal serupa. Indonesia akan melarang impor ikan dari Norwegia. Hal itu akan dilakukan bila Norwegia menerapkan kebijakan proteksionisme seperti Amerika Serikat.

    Menurut dia, Norwegia memproduksi banyak ikan. Indonesia menjadi negara langganan hasil tangkapan ikan Norwegia. Berdasarkan data dari Kedutaan Besar Norwegia, Indonesia selalu mengimpor 6.500 ton ikan salmon dengan nilai US$ 20 juta.

    Ihwal kebijakan proteksionisme, Enggartiasto menyampaikan akan menghindari perang dagang yang cenderung dilakukan terselubung dan tak terbuka oleh negara tertentu. Perang dagang yang dimaksud adalah meningkatnya tarif pajak barang impor, seperti yang dilakukan Amerika melalui kebijakan proteksionisme.

    Dalam pembicaraannya dengan perwakilan Norwegia disampaikan bahwa Indonesia tak perlu khawatir. "Dia (Norwegia) bilang, 'Percayalah saya kalau itu belum jadi keputusan pemerintah Norwegia'," ujar Enggartiasto, Rabu, 21 Maret 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?