Pelemahan Rupiah, Ini Kata Bos Garuda Indonesia

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - President sekaligus Chief Executive Officer Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengaku tidak khawatir dengan melemahnya rupiah. Menurut Pahala, pelemahan rupiah tak berdampak negatif terhadap kondisi keuangan Garuda Indonesia.

    "Karena memang 30 persen jumlah penerbangan kita itu masih cukup banyak yang merupakan penerbangan internasional," kata Pahala di Hotel Grand Mercure, Jakarta Pusat, Rabu, 21 Maret 2018.

    Baca: BI Sebut Volatilitas Rupiah Paling Rendah di ASEAN

    Adapun jumlah penumpang internasional meningkat dari Januari-September 2017. Data Badan Pusat Statistik, kata Pahala, menunjukkan ada 12,5 juta penumpang internasional atau naik 14,47 persen. Sementara penumpang domestik tumbuh 11,36 persen dengan total 66 juta orang pada periode yang sama di 2016.

    Pahala mengharapkan agar pelemahan rupiah tak menurunkan daya beli masyarakat yang berdampak pada jumlah penumpang internasional.

    Sejak 1 Maret hingga 14 Maret, kurs rupiah terdepresiasi sebesar 0,27 persen (month to date). Jika dihitung sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, rupiah terdepresiasi 1,5 persen.

    Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengharapkan Bank Indonesia bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Kami tentu berharap BI mengambil langkah-langkah untuk mengembalikan rupiah," ujar Darmin di Jakarta, Selasa, 6 Maret 2018.

    Darmin mengatakan pelemahan rupiah yang sedang terjadi sejak pertengahan Januari 2018 ini akibat tekanan eksternal karena pelaku pasar menyikapi perkembangan ekonomi di Amerika.

    LANIDIANA | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.