Waspada, Beredar Call Center Halo BCA Palsu

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hallo BCA. Twitter.com

    Hallo BCA. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan beredar di media sosial atas modus penipuan yang mengatasnamakan call center Halo Bank Central Asia (BCA). Kabar itu sempat viral di jejaring sosial Twitter usai salah satu nasabah BCA, Kerry Anogia, mengunggah nomor palsu yang digunakan untuk mengeruk data dan informasi nasabah.

    “Awas... call center HaloBCA palsu gentayangan. Modusnya verifikasi data2 pribadi dan pengkinian data,” cuit Kerry melalui akun Twitter-nya @kerryanogia.

    Baca:Dana Nasabah Bank Mandiri yang Raib Berkisar Rp 1-2 Juta

    Dalam cuitannya, Kerry melampirkan dua tangkapan layer yang membandingkan Halo BCA asli dan palsu. Menurut foto yang diunggah Kerry, Halo BCA asli menggunakan nomor 1500888 untuk menghubungi nasabahnya. Sementara, oknum yang mengatasnamakan Halo BCA bernomor +1622 1500888.

    Menanggapi kasus tersebut, Twitter resmi Halo BCA mengeluarkan himbauan terkait modus penipuan itu. Melalui akun @HaloBCA, nasabah diimbau untuk memastikan nomor yang tertera di layer sebelum menerima telepon tersebut.

    “Jika petugas Contact Center HaloBCA menghubungi nasabah, nomor telepon yang akan tertera di layer telepon seluler nasabah adalah 1500888,” cuit akun @HaloBCA. BCA juga menganjurkan nasabahnya untuk tidak memberikan informasi pribadi apapun jika ada nomor lainnya yang mengatasnamakan Halo BCA.

    Belakangan, marak pula metode penggandaan informasi nasabah dengan metode skimming. Salah satunya yang menimpa sejumlah nasabah PT Bank Rakyat Indonesia di Ngadiluwih, Kediri. Dana nasabah tersebut terkuras.

    Melalui metode skimming, para oknum mencuri informasi kartu kredit atau debit dengan menyalin informasi pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Skimming merupakan salah satu jenis penipuan yang masuk dalam metode phishing.

    Baca berita tentang BCA lainnya di Tempo.co.


  • BCA
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.