Stok Beras 600 Ribu Ton, Bulog: Aman hingga Ramadan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas penjualan beras di pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 27 November 2017. Kepala Bulog Djarot Kusumajakti mengatakan saat ini pihaknya masih menyimpan stok 1,2 juta ton baik untuk beras sejahtera (rastra), cadangan pangan, maupun komersial. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas penjualan beras di pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, 27 November 2017. Kepala Bulog Djarot Kusumajakti mengatakan saat ini pihaknya masih menyimpan stok 1,2 juta ton baik untuk beras sejahtera (rastra), cadangan pangan, maupun komersial. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Stok beras nasional diyakini Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) bakal terjaga hingga bulan puasa nanti atau Juni 2018. Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan dengan stok saat ini perusahaan akan berupaya menjaga harga tidak bergerak terlalu tinggi. "Kami diperintahkan menekan harga beras (yang tinggi) ke harga normal," kata dia di gedung Bulog, Jakarta, Selasa, 20 Maret 2018.

    Djarot menyebut total stok beras Bulog hingga hari ini mencapai sekitar 600 ribu ton. Jumlah itu, menurut dia, sudah termasuk beras impor yang mencapai 261 ribu ton dan beras untuk rakyat sejahtera (Rastra). "Kami rancang dalam dua bulan ke depan akan melepas 400 ribu ton beras dengan berbagai kualitas," ucap Djarot.

    Sedangkan untuk beras Rastra, Bulog memastikan pasokan aman dan tidak terganggu. Sebab, ucap Djarot, Bulog menyerap beras 6.000-7.000 ton per hari dari domestik. "Kebutuhan Rastra itu 141 ribu ton per bulan, jadi tidak masalah," kata dia.

    Seperti diberitakan, pemerintah kembali membuka keran impor bagi komoditas beras. Pemerintah menugaskan Bulog untuk mendatangkan 500 ribu ton beras dari luar negeri. Tujuannya untuk menekan harga beras di level konsumen yang dianggap sudah melewati harga eceran tertinggi (HET). Namun hingga Februari lalu, baru 261 ribu ton beras impor yang sudah masuk ke gudang Bulog. Sisanya akan dipenuhi pada Maret ini.

    Upaya menekan harga beras yang sudah merangkak naik sejak awal tahun ini, kata Djarot, membutuhkan tahapan dan proses. Ia mengatakan kedatangan beras impor untuk mencegah kekosongan (shorted) stok di Bulog.

    Mengenai kemungkinan mundurnya panen raya dari Maret ke pertengahan April, Djarot tak berbicara banyak. Ia mengatakan harus memastikan data di lapangan kepada Badan Pusat Statistik. "Kalau mundur tentu ada mekanisme pasar," kata dia.

    Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto menambahkan, masa panen raya diperkirakan tetap berlangsung pada Maret ini. Kementerian, dia melanjutkan, memprediksi luas panen pada Maret ini mencapai 2.161.305 hektare dan April seluas 1.278.268 hektare. "Sekarang panen raya dan tidak ada hama-penyakit," ucap Gatot.

    Sedangkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahja Widayanti menilai belum tercapainya HET beras saat ini karena harga gabah kering panen (GKP) panen yang sudah tinggi. BPS mencatat, pada Januari 2018, harga GKP di tingkat petani naik 8,42 persen atau menjadi Rp 5.415 per kilogram. Sedangkan harga di tingkat penggilingan naik 8,41 persen menjadi Rp 5.508 per kilogram dibanding Desember 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.