Fitch Prediksi BI Pertahankan Bunga Acuan Hingga Akhir Tahun

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • kantor bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi

    kantor bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi

    TEMPO.CO, JakartaBank Indonesia (BI) diperkirakan bakal mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau 7-days Reverse Repo Rate di level saat ini 4,25 persen hingga akhir tahun. "Kami perkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan tahun ini, sebelum mulai menaikkannya tahun depan secara bertahap," tulis laporan terakhir "Global Economic Outlook" yang diumumkan oleh lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings, Ltd., Jumat, 16 Maret 2018.

    Fitch memproyeksikan tingkat suku bunga acuan Bank Sentral AS The Fed atau Fed Fund Rate akan naik sebanyak empat kali pada tahun ini. Meski hal tersebut diperkirakan akan menekan nilai tukar Rupiah, namun Fitch menilai ketahanan Indonesia terhadap goncangan eksternal telah meningkat "Kendati demikian, tekanan pasar bisa muncul mengingat tingkat ketergantungan komoditas Indonesia dan tingkat hutang eksternal yang relatif tinggi," sebut laporan itu.

    Baca: Marak Skimming, BI: Kartu Chip Lebih Mahal, Tapi Lebih Aman

    Pada 2017 lalu, Bank Indonesia melakukan pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali.Bank Indonesia juga telah melakukan merelaksasi sejumlah kebijakan makroprudensial dalam beberapa tahun terakhir, misalnya dengan meningkatkan rasio pinjaman terhadap nilai pinjaman (loan to value ratio) properti. "Namun, pertumbuhan kredit masih belum begitu meningkat cepat pada saat ini, terutama untuk bisnis," tulis laporan itu.

    Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pertengahan Februari 2018 lalu, memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,5 persen dan Lending Facility tetap sebesar lima persen.

    Kebijakan tersebut diklaim konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik. Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik.

    Bank Indonesia juga mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari eksternal seperti peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global terkait ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih tinggi dari perkiraan dan peningkatan harga minyak dunia, maupun dari dalam negeri terkait konsolidasi korporasi yang terus berlanjut, intermediasi perbankan yang belum kuat dan risiko inflasi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.