Menteri Jonan Sebut Belanja Modal Migas Naik Dua Kali Lipat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan setelah melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Pribadi Tahun 2017 secara elektronik di kantornya, Jakarta, 6 Maret 2018. Jonan didampingi langsung Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan Jakarta Selatan II Edi Slamet Irianto dan sejumlah pegawai kanwil DJP Jakarta Selatan II lainnya. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan setelah melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Pribadi Tahun 2017 secara elektronik di kantornya, Jakarta, 6 Maret 2018. Jonan didampingi langsung Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan Jakarta Selatan II Edi Slamet Irianto dan sejumlah pegawai kanwil DJP Jakarta Selatan II lainnya. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan belanja modal migas tahun ini bisa mencapai USD 20 miliar atau naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya USD 10 miliar. Jadi wajar jika sektor migas menjadi salah satu penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan pada Februari 2018.

    "Kalau tahun lalu belanja modal ESDM USD 10 miliar, tahun ini belanja modalnya USD 20 miliar. Jadi pasti defisit," kata Jonan saat ditemui di kantornya pada Jumat, 16 Maret 2018.

    Namun, ketika ditanya lebih lanjut ihwal apa yang menyebabkan kenaikan belanja modal tersebut, Jonan hanya bungkam. Sekretaris Jenderal ESDM Ego Syahrial juga mengaku tidak mengetahui secara rinci apa yang menyebabkan kenaikan belanja modal di sektor migas itu. "Mungkin ada tambahan (modal) baru atau bisa juga karena harga minyak naik," ucap Ego saat ditemui di lokasi yang sama.

    Simak: Soal Pajak, Ini Imbauan Menteri Jonan untuk Staf ESDM

    Catatan BPS, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD 116 juta pada Februari 2018. Hal itu dipicu defisit sektor migas yang mencapai USD 0,87 miliar. Selama Februari 2018, impor migas mencapai USD 2,26 miliar. Rinciannya, USD 932 juta untuk minyak mentah, USD 1,1 miliar untuk hasil minyak, dan USD 196 juta untuk gas.

    Selisih ekspor-impor sektor migas minus USD 869 juta atau USD 0,87 miliar. Untuk selisih ekspor-impor nonmigas surplus USD 753 juta atau USD 75 miliar.

    Direktur Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Hidayat Amir mengatakan defisit neraca perdagangan itu harus dilihat dari porsinya. "(Impor) yang tinggi kan bukan barang konsumsi, melainkan barang modal atau barang baku," ujar Amir saat ditemui Tempo di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat.

    Menurut Amir, neraca perdagangan yang defisit karena impor barang baku atau belanja modal yang tinggi tidak mengkhawatirkan. Sebab, ke depan, ada ekspektasi menghasilkan barang produksi. "Kalau produksi bagus dan daya beli tetap terjaga, ekonomi kita akan tumbuh," tutur Amir.

    Ikuti berita tentang Jonan dan sektor migas di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?