Marak Skimming, BI: Kartu Chip Lebih Mahal, Tapi Lebih Aman

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Indonesia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan

    Bank Indonesia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia menyebutkan maraknya kasus kejahatan skimming kartu pembayaran belakangan ini sebetulnya bisa dicegah dengan penggunaan kartu berteknologi chip. 

    Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman Zainal, menyatakan, salah satu kelebihan dari teknologi chip ialah lebih aman dibandingkan dengan teknologi pita magnetik. "Lebih mahal memang namun lebih aman," kata dia kepada Tempo, Kamis, 15 Maret 2018.

    Baca: Duit Nasabah BRI Raib Karena Skimming, Bos OJK: Harus Hati-hati

    Untuk hal ini, bank sentral juga sudah mewajibkan seluruh perbankan nasional menggunakan kartu pembayaran dengan teknologi chip meliputi kartu anjungan tunai mandiri (ATM), debit, dan kredit paling lambat pada tahun 2021.

    Agusman mengatakan target itu diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.17/52/DKSP tanggal 30 Desember 2015. Beleid itu menyoal tentang Implementasi Standar Nasional Teknologi Chip Kartu ATM/Debit.

    Adapun landasan hukum dari surat edaran itu ialah Peraturan Bank Indonesia No.14/2/PBI/2012 tentang National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS). 

    Kendati diklaim lebih aman, langkah pengamanan tradisional masih diperlukan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Suprajarto menyatakan langkah pengawasan oleh petugas di lapangan harus terus dilakukan. "Kami patroli, kemudian ada monitoring, seperti mengawasi transaksi anomali," ucapnya.

    Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan target penerapan teknologi chip pada 2021 dianggap terlalu lama. Pasalnya, teknologi sistem pembayaran berkembang dengan cepat. Oleh sebab itu, ia menilai, perlu ada sikap yang proaktif antara nasabah dengan perbankan. "Ini menyangkut keamanan transaksi nasabah menggunakan kartu," kata Eko.

    Data Bank Indonesia menyebutkan sepanjang tahun 2017, alat pembayaran menggunakan kartu terbanyak adalah kartu ATM dan debit dengan jumlah 156 juta kartu, disusul oleh kartu kredit sebanyak 17 juta kartu dan kartu ATM sebanyak 8,8 juta kartu.

    Sepanjang tahun lalu, BI juga mencatat infrastruktur alat pembayaran menggunakan kartu terbanyak adalah mesin EDC sebanyak 1,24 juta unit. Kemudian infrastruktur lainnya disusul oleh jumlah merchant sebanyak 698 ribu unit, dan selanjutnya mesin ATM sebanyak 107 ribu unit. 

    Baca berita lainnya tentang skimming di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.