Temui Jokowi, Korporasi Thailand Akan Bangun Pabrik Petrokimia di Indonesia

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum meninggalkan tanah air menuju Sydney, Australia dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, 16 Maret 2018. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi akan menghadiri ASEAN-Australia Special Summit 2018 yang membahas penguatan kerja sama ekonomi serta pemberantasan terorisme antara ASEAN dan Australia. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum meninggalkan tanah air menuju Sydney, Australia dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, 16 Maret 2018. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi akan menghadiri ASEAN-Australia Special Summit 2018 yang membahas penguatan kerja sama ekonomi serta pemberantasan terorisme antara ASEAN dan Australia. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima kunjungan Siam Cement Group (SCG), korporasi asal Thailand yang bergerak di bidang semen, bahan kimia, dan kemasan, di Istana Merdeka, Kamis, 15 Maret 2018. 

    President and CEO SCG Roongrote Rangsiyopash mengatakan pertemuan itu membahas rencana investasi. Menurut dia, Indonesia sudah menjadi destinasi investasi terbesar SCG di Asia Tenggara. 

    Baca: Jokowi Beri Pekerjaan Rumah untuk Perbankan: Kredit Pendidikan

    "Kami telah berinvestasi di sini selama beberapa tahun dan kami berniat membangun kompleks petrokimia kedua," ucap Roongrote seusai pertemuan. SCG sebelumnya telah menanam modal di Indonesia dengan menjadi pemilik 30 persen saham perusahaan petrokimia di Indonesia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, yang kini beroperasi di Cilegon, Banten. 

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan nilai investasi pabrik petrokimia yang akan dibangun itu mencapai US$ 5,5 miliar. "Ini salah satu investasi paling besar," ujarnya. 

    Pabrik itu akan memproduksi polypropylene, polyethylene, dan naphtha cracker dengan kapasitas sekitar 2 juta ton per tahun. Kapasitas pabrik petrokimia di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding Thailand dengan kapasitas 5 juta ton dan Malaysia 3 juta ton. Jika kapasitas produksi di Indonesia bisa ditingkatkan, Airlangga optimistis investasi ini akan mendorong industri downstream

    SCG dan Chandra Asri saat ini tengah merancang desain pembangunan pabrik petrokimia tersebut. Targetnya, pabrik dapat dibangun tahun ini dan beroperasi pada 2022. "Mereka lagi FEED (front end engineering design) dengan Chandra Asih. Mereka confidence terhadap proyek ini," kata Airlangga.

    Ia menuturkan pabrik ini bisa mengurangi juga impor ketiga bahan baku itu. Hasil produksinya juga tak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga ditargetkan bisa diekspor. 

    Airlangga berujar, Presiden Jokowi menjanjikan insentif jika SCG serius berinvestasi. Salah satunya berupa tax holiday. Presiden juga menyatakan pemerintah Indonesia akan mempermudah investasi dengan fasilitas single submission yang ditargetkan selesai akhir bulan ini. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.