Utang Luar Negeri Naik Jadi USD 357,5 M, BI Sebut Masih Aman

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Utang Luar Negeri dalam Valas perusahaan yang memiliki sumber pendapatan dalam Rupiah akan menghadapi risiko nilai tukar.

    Utang Luar Negeri dalam Valas perusahaan yang memiliki sumber pendapatan dalam Rupiah akan menghadapi risiko nilai tukar.

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 tercatat sebesar US$ 357,5 miliar. Jumlah utang tersebut terhitung naik sebesar 10,3 persen secara tahunan (year on year). Utang tersebut terdiri dari utang sektor pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 183,4 miliar, serta utang swasta sebesar US$ 174,2 miliar.

    Menurut Bank Indonesia, angka tersebut masih di level aman. "Utang luar negeri kita tumbuh stabil sebesar 10,3 persen (yoy), sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya," kata Deputi Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia, Tutuk Cahyono di kantornya pada Kamis, 15 Maret 2018.

    Sementara di lain sisi, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Bhima Yudhistira mengatakan kenaikan ULN ini cukup menghawatirkan dan kurang produktif karena tidak sebanding dengan penerimaan pajak negara. "Pertumbuhan utang luar negeri mencapai 10,3 persen, tapi kalau kita cek kinerja penerimaan pajak hanya tumbuh 4 persen rata-rata dalam dua tahun terakhir," kata Bhima saat dihubungi Tempo pada Kamis malam, 15 Maret 2018.

    Menurut Bhima, saat ini rasio pembayaran cicilan pokok dan bunga utang terhadap penerimaan pajak pada 2017 sudah mencapai 31 persen. "Angka ini meningkat drastis dari tahun 2016 yang masih di kisaran 26 persen," kata dia.

    Selain itu, lanjut Bhima, bertambahnya utang luar negeri juga tidak berkorelasi dengan naiknya pertumbuhan ekonomi. "Utang naik 10,3 persen, sementara ekonomi hanya tumbuh 5 persen. Ini ada diskonektivitas," kata Bhima.

    Namun  lanjut Bhima, adalah hal wajar jika pemerintah mengatakan utang luar negeri Indonesia masih di level aman. "Pemerintah tentu ingin membuat pasar lebih tenang dan tidak panik. Pemerintah juga perlu meyakinkan calon investor bahwa indonesia masih on the track,"  ujarnya.

    Dalam berbagai kesempatan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kerap mengatakan agar tidak perlu takut berutang, selama utang itu dikelola dengan baik. “Kalau utang digunakan dengan tujuan dan diawasi dengan hati-hati, dia (utang) bisa menjadi solusi. Tapi tidak berarti harus kecanduan utang,” ujar dia.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.