Dana Nasabah Dibobol, BRI Patroli ke Setiap ATM

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di depan penukaran uang atau money changer Bank BRI di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang berbatasan dengan Papua Nugini, di Jayapura, Papua, 14 November 2017. Halaman depan Indonesia di ujung timur ini dipercantik pada pertengahan tahun ini.  TEMPO/ Nita Dian

    Warga melintas di depan penukaran uang atau money changer Bank BRI di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang berbatasan dengan Papua Nugini, di Jayapura, Papua, 14 November 2017. Halaman depan Indonesia di ujung timur ini dipercantik pada pertengahan tahun ini. TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Utama BRI Suprajarto menyatakan BRI melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi pembobolan dana nasabah. Di antaranya adalah menghidupkan sistem notifikasi untuk mengantisipasi kejahatan perbankan. "Jadi kalau ada transaksi diberi notifikasi dulu. Benar atau tidak dia yang melakukan transaksi tersebut," ujar Suprajarto. Notifikasi itu rencananya akan diberikan via ponsel.

    BRI juga akan meningkatkan patroli di tiap Anjungan Tunai Mandiri (ATM). BRI akan merekrut petugas tambahan melalui outsourcing untuk menjalankan patroli secara rutin.

    Rekening sejumlah nasabah BRI di Kediri, Jawa Timur, dibobol. Diduga hal itu dilakukan oleh peretas atau skimmer melalui mesin ATM.

    Untuk mengantisipasi hal itu, Bank Indonesia sebenarnya sudah mengeluarkan aturan pada 2016 lalu yang mewajibkan setiap kartu diproses dengan teknologi chip dan PIN 6 digit. Aturan ini ditargetkan terealisasi secara bertahap hingga 31 Desember 2021.

    Pada 1 Januari 2019 mendatang, sebanyak 30 persen dari total kartu ATM bank harus sudah diganti. Jumlahnya harus meningkat menjadi 50 persen pada 1 Januari 2020 dan mencapai 80 persen pada 1 Januari 2021.

    Penggunaan chip seharusnya terlaksana pada 31 Desember 2015. Namun BI memperpanjang targetnya hingga 2021. Salah satu sebabnya adalah ketidaksiapan industri perbankan lantaran biaya penggantian kartu yang mahal.

    Baca jugaDana Nasabah Raib Karena Skimming, BRI Tingkatkan Keamanan IT

    Menurut Suprajarto, penerapan kebijakan kartu berbasis chip masih rendah. Hingga saat ini, baru sekitar 5 persen kartu berbasis chip yang sudah diterbitkan BRI.

    "Prosesnya tidak gampang. Ada beberapa langkah yang harus kami lakukan. Tapi itu terus kami lakukan," kata dia di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Maret 2018.

    Suprajarto menuturkan, salah satu kendala BRI adalah biaya pemasangan chip. Menurut dia, biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Terlebih lagi jumlah nasabah BRI saat ini sekitar 50 juta orang.

    Meski masih sedikit, Suprajarto menargetkan perubahan kartu berbasis pita magnetik ke chip bisa selesai dalam waktu cepat. Targetnya, pertengahan tahun depan konversi kartu bisa selesai seluruhnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.