Perbankan Diminta Agresif Kucurkan Kredit, OJK: Momentumnya Tepat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 28 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putr

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 28 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putr

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menyebutkan tahun ini merupakan momentum yang tepat bagi industri keuangan untuk kembali melakukan ekspansi sejalan dengan rendahnya inflasi dan naiknya harga komoditas.

    Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan industri perbankan tidak perlu terlalu khawatir dengan situasi ekonomi saat ini. Sebab, risiko perhitungan bisnis tercatat lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Harga komoditas, yang sempat anjlok tiga tahun terakhir, mulai pulih.

    “Momentum jangan sampai hilang, jangan sampai nunggu lagi. Biasanya kredit perbankan akan tumbuh setelah kuartal pertama. Ini mestinya harus segera dinilai, enggak usah menunggu lagi,” ucapnya di Istana Negara, Kamis, 15 Maret 2018.

    Pada 2018, OJK menargetkan pertumbuhan kredit di Indonesia bisa mencapai 12 persen sehingga angka ini diharapkan mampu berkontribusi mendukung pertumbuhan ekonomi hingga 5,4 persen. Wimboh meyakini target ini bisa dicapai dengan mudah oleh industri perbankan mengingat tren perbaikan ekonomi sudah terlihat.

    Baca: Disebut OJK Sebagai Rentenir, Ini Penjelasan Bos Fintech

    “Dengan kondisi suku bunga yang makin rendah, suku bunga deposito sudah turun 65 bps, dan suku bunga kredit turun 77 bps selama setahun kemarin. Tren penurunan ini diharap masih terus berlanjut untuk merespons penurunan BI Rate, yang kemarin terjadi beberapa kali,” ujarnya.

    Seperti diketahui, pertumbuhan kredit tahun lalu hanya 8,24 persen atau meleset dari target yang ditetapkan, yakni 9-12 persen.

    Kendati pertumbuhan kredit meleset, Wimboh mengakui rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan Indonesia pada 2017 sebesar 23,26 persen cukup kuat. Padahal standar CAR di negara-negara maju biasanya berkisar 12-15 persen.

    “Pertumbuhan kredit 2017, yakni 8,24 persen, memang ini lebih rendah dari rencana bisnis 2017. Kami paham beberapa bank masih dalam konsolidasi kredit macet. Kredit macet ini di antaranya harus dihapus supaya non-performing loan (NPL) menjadi rendah,” ucap Wimboh.

    Menurutnya, NPL yang rendah di industri keuangan menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga langkah restrukturisasi perbankan dalam menekan kredit macet diakui sangat penting.

    Pada 2017, industri perbankan sukses menekan NPL hingga ke level 2,5 persen dari sebelumnya di atas 3 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.