Arief Yahya: Investasi Pariwisata Memang Kecil Untungnya, tapi...

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pariwisata Arief Yahya saat menghadiri Regional Investment Forum yang digelar Badan Kerjasama Penanaman Modal di Yogyakarta Rabu (14/3). Arief mengatakan sektor pariwisata dan lifestyle sedang panen besar akibat perubahan sektor bisnis ke sektor jasa.(PRIBADI WICAKSONO/TEMPO)

    Menteri Pariwisata Arief Yahya saat menghadiri Regional Investment Forum yang digelar Badan Kerjasama Penanaman Modal di Yogyakarta Rabu (14/3). Arief mengatakan sektor pariwisata dan lifestyle sedang panen besar akibat perubahan sektor bisnis ke sektor jasa.(PRIBADI WICAKSONO/TEMPO)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai rendahnya minat investor lokal dibanding investor asing dalam bidang pariwisata karena masih terlalu terpaku pada margin keuntungan yang diperoleh. “Memang net profit margin pariwisata itu tidak besar, sekitar 10 persen saja (dari modal yang ditanam), dan itu pun lama tercapainya,” ujar Arief di sela menghadiri Regional Investment Forum yang digelar Badan Kerja Sama Penanaman Modal (BKPM) di Yogyakarta, Rabu, 14 Maret 2018.

    Dengan gambaran profit pariwisata yang kecil itulah investor atau pengusaha memang harus memutar otak agar keuntungan yang diperoleh bisa terlihat. “Jangan fokus ke sektor pariwisata saja, tapi gabungkan dengan sektor lain, seperti properti,” ujar Arief.

    Baca: Menpar Arief Yahya: Target Wisatawan Mancanegara 17 Juta di 2018

    “Gambarannya, kalau mau kaya, jangan punya hotel, tapi kaya-lah dulu, baru punya hotel,” Arief menambahkan.

    Arief menuturkan, ketika bisnis pariwisata diintegrasikan dengan properti seperti hotel, pendapatan yang diperoleh dari kunjungan hotel akan lebih kecil daripada pendapatan yang diperoleh dari harga tanah tempat hotel itu berdiri.

    Investasi di bidang pariwisata ini, ujar Arief, mirip ketika seorang pengusaha membangun jalan tol. Untuk mendapat keuntungan dari tol saja, break event point (balik modal)-nya bisa sampai 20 tahun. Karena itu, para pengusaha memutar otak dengan mengintegrasikan layanan tol dan properti dengan cara membangun pintu-pintu masuknya.

    “Kayak di jalan tol di Cikampek, begitu pintu tol dibuka, sudah Rp 2 juta di tangan, itu kalau cuma 20 kendaraan saja yang masuk,” tuturnya.

    Arief juga mencontohkan Jakarta yang kini sedang berinvestasi membangun jalur mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). Untuk mendulang untung dari proyek utama itu, bisa menjual papan iklan di sepanjang jalur yang dilalui. “Untungnya dari advertise MRT dan LRT itu bisa triliunan, pengusaha balik modalnya lebih cepat,” ucapnya.

    Mantan Direktur Utama Telkom Indonesia itu pun mendorong investor lokal juga berani dan kreatif saat menginvestasikan modal di bidang pariwisata. “Kalau mau bisnis itu harus kreatif,” ujar Arief.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.