Kamis, 19 Juli 2018

JK Jelaskan Tantangan Pangan Akibat Melonjaknya Penduduk

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Wapres Jusuf dalam konferensi Kabul Peace Process di Kabul, Afghanistan 28 Februari 2018. REUTERS / Omar Sobhani

    Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Wapres Jusuf dalam konferensi Kabul Peace Process di Kabul, Afghanistan 28 Februari 2018. REUTERS / Omar Sobhani

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengatakan pertanian Indonesia menghadapi banyak sekali tantangan. Pemerintah butuh rencana penyelesaian masalah jangka pendek hingga jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan.

    JK menuturkan salah satu tantangannya adalah pertambahan penduduk. Dalam 30 tahun, penduduk dunia diprediksi mencapai 9 miliar orang. Adapun di Indonesia jumlah penduduknya diperkirakan bertambah menjadi 350 juta orang pada 2045. 

    Dengan kondisi tersebut, kebutuhan pangan yang dibutuhkan terus-menerus naik kira-kira 3 persen per tahun. "Indonesia harus siap meningkatkan kebutuhannya 3 persen per tahun," kata JK di JCC, Jakarta, Kamis, 8 Maret 2018. 

    Jika jumlah penduduk bertambah, lahan pertanian pun semakin menyempit. Belum lagi perubahan iklim yang tengah terjadi mempengaruhi produksi produk pertanian. Ketersediaan air juga menjadi masalah besar bagi pertanian. Pasokan air sulit didapat jika hutan ditebang dan gunung dipotong terus-menerus. 

    "Pangan butuh air, air butuh hutan, hutan butuh gunung. Potonglah bukit di Garut, di Dieng, banjir-lah. Korban lagi, dan sebagainya," kata JK. 

    JK menuturkan, pendapatan petani juga menjadi salah satu tantangan yang harus diperhatikan pemerintah. Petani, kata dia, bekerja paling keras tapi pendapatannya jauh di bawah rata-rata upah minimum di Indonesia. Menurut dia, pendapatan petani hanya sekitar Rp 1 juta per bulan. 

    Dampaknya, jumlah petani semakin sedikit karena banyak dari mereka beralih menjadi pegawai di pabrik. Kondisi tersebut menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi negara kekurangan petani, tapi di sisi lain terjadi penyerapan tenaga kerja. Pabrik mampu menampung 100-200 pekerja, sedangkan satu lahan sawah hanya tiga orang. 

    Pada era 1960-1970, JK mengatakan, kekhawatiran terhadap masalah pangan bisa ditangani dengan revolusi hijau dan revolusi biru. Namun dunia berubah dan revolusi yang baru dibutuhkan. 

    JK mengatakan salah satu solusinya terletak pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Bibit hibrid, misalnya, telah lazim digunakan di negara lain, sementara di Indonesia masih menjadi pertanyaan. 

    Dia mencontohkan India yang mampu meningkatkan produksi pertanian tanpa menambah lahan dengan memanfaatkan teknologi. "Dulu India impor gandum. Sekarang malah ekspor gandum. Malah kita mengimpor beras juga dari India," ujar JK. Dia mengatakan pemerintah harus banyak belajar dari negara lain. 

    Menurut JK, peran pengusaha juga penting untuk memastikan ketahanan pangan. Pengusaha mampu membangun pusat riset pangan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan teknologi di bidang pertanian. Dengan riset, produktivitas bisa meningkat dan tantangan pertanian bisa diatasi. 

    Dia mengatakan rencana penyelesaian masalah pangan penting dipikirkan demi masa depan. "Boleh kekurangan baju. Kita pakai baju, cuci lagi, pakai lagi. Tapi kekurangan pangan tidak bisa tergantikan. Tidak bisa makanan kemarin kita makan lagi hari ini," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Venna Melinda dan Legislator yang Pindah Partai di Pemilu 2019

    Beberapa politikus pindah partai dalam pendaftaran calon legislator untuk Pemilu 2019 yang berakhir pada 17 Juli 2018. Berikut beberapa di antaranya.