BI Sebut Kurs Rupiah 13.800 per Dolar AS Berlebihan, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Indonesia Dukung Peningkatan Industri Hulu

    Bank Indonesia Dukung Peningkatan Industri Hulu

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia menyatakan nilai tukar rupiah (kurs rupiah) terhadap dolar Amerika Serikat yang pada Kamis pagi tadi sempat menyentuh Rp 13.800 per dolar AS, sudah berlebihan dan tidak sesuai fundamental perekonomian. "Kami kira nilai tukar Rp 13.800 per dolar AS di level itu berlebihan. Kalau melihat fundamental domestik sekarang seharusnya rupiah bisa lebih kuat," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018.

    Menurut Doddy, pelemahan rupiah tersebut terjadi karena dua faktor yakni data perbaikan ekonomi AS dan dan juga pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di depan Kongres AS yang mengindikasikan ekonomi AS ke depan akan membaik dan inflasi yang akan naik.

    Baca: Volatilitas Rupiah Makin Sempit Selama 17 Tahun Terakhir

    Namun di lain sisi, kata Doddy, kondisi ekonomi domestik Indonesia seharusnya bisa menahan kurs rupiah di level yang lebih baik. Terlebih, angka inflasi juga masih terkendali.

    Selain itu, menurut Doddy, faktor-faktor ekonomi demostik lainnya seperti  juga membaik dengan neraca pembayaran surplus, devisa membaik serta rating pertumbuhan ekonomi juga lebih baik. "Tidak ada alasan rupiah melemah jika melihat faktor domestik. Semua karena faktor global," katanya.

    Pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), Jerome H Powell disinyalir memiliki pesan yang bernada Hawkish, atau memberikan indikasi kenaikan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR) lebih banyak. "Sehingga setelah itu pasar global bergerak sangat cepat," ucap Doddy.

    Untuk mengantisipasi rupiah semakin melemah, Bank Indonesia menyatakan siap melakukan stabilisasi dan intervensi. "Saat rupiah menyentuh Rp 13.800 per dolar AS kami langsung siap, kami lihat semua data dan sejak pagi terlihat bakal ada tekanan, makanya kami siap langsung stabilisasi," ucap Doddy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.