BPS: Pelemahan Kurs Rupiah Bukan Pemicu Inflasi Februari

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini bukan penyebab meningkatnya laju inflasi pada Februari lalu. "Kalau dilihat, kelompok barang yang di inti naiknya lebih karena faktor domestik. Karena itu, saya tidak akan menyimpulkan karena pelemahan rupiah," ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018.

    BPS telah mengumumkan inflasi pada Februari 2018 sebesar 0,17 persen, yang didominasi komponen inti yang mengalami inflasi 0,26 persen dengan andil terhadap inflasi Februari 2018 sebesar 0,15 persen.

    Baca: Rupiah Melemah ke Rp 13.791 pada Kamis Pagi Ini 

    Adapun kelompok komponen yang harganya diatur pemerintah dan komponen yang harganya bergejolak berturut-turut mengalami inflasi 0,07 persen dan 0,1 persen serta memberikan sumbangan terhadap inflasi masing-masing 0,01 persen. "Betul, inflasi 0,17 persen didominasi oleh inflasi inti 0,26 persen dengan andil 0,15 persen," kata Suhariyanto.

    Untuk komoditas di komponen inti yang mengalami inflasi sendiri adalah emas, yang memberikan sumbangan 0,02 persen dan dipengaruhi pergerakan harga emas internasional. "Komoditas lain lebih karena kenaikan domestik, seperti kenaikan upah pembantu rumah tangga 0,01 persen, kenaikan tarif sewa rumah 0,1 persen, dan naiknya tarif tukang bukan mandor 0,01 persen. Ada juga beberapa komoditas seperti soto dan ayam goreng," ucap dia.

    Beberapa komoditas lain yang mengalami kenaikan harga pada Februari 2018, antara lain rokok kretek, rokok kretek filter, beras, bawang putih, ikan segar, bawang merah, emas perhiasan, bensin, mi kering instan, anggur, pepaya, semangka, cabai rawit, tarif sewa rumah, upah tukang bukan mandor, tarif listrik, upah pembantu rumah tangga, dan mobil.

    Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, tarif angkutan udara, cabai merah, bayam, kacang panjang, kentang, sawi hijau, dan wortel. Dari 82 kota, 55 kota mengalami inflasi dan 27 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 1,05 persen dan terendah terjadi di Palangkaraya sebesar 0,04 persen. Adapun deflasi tertinggi terjadi di Medan sebesar 0,96 persen dan terendah terjadi di Lubuklinggau sebesar 0,02 persen.

    Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari) 2018 sebesar 0,79 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2018 terhadap Februari 2017) 3,18 persen. Komponen inti pada Februari 2018 mengalami inflasi 0,26 persen.

    Sedangkan tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Februari) 2018 mengalami inflasi 0,57 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Februari 2018 terhadap Februari 2017) 2,58 persen. Adapun nilai tukar rupiah terus melemah belakangan ini dan berada di level Rp 13.793 per dolar Amerika pada siang ini.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?