Sering Ganti Kartu Prabayar, Operator Habiskan Rp 2 Triliun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengantre untuk melakukan registrasi ulang kartu telepon seluler prabayar di Kantor Grapari Telkomsel, Yogyakarta, 28 Februari 2018. Pemblokiran tersebut sesuai dengan Peraturan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi. ANTARA

    Warga mengantre untuk melakukan registrasi ulang kartu telepon seluler prabayar di Kantor Grapari Telkomsel, Yogyakarta, 28 Februari 2018. Pemblokiran tersebut sesuai dengan Peraturan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Komunikasi dan Informatika mengimbau kepada masyarakat agar tidak sering mengganti nomor kartu prabayar ponsel, karena mengakibatkan bisnis ini tidak efisien.

    "Kalau pakai buang itu menjadikan bisnis ini tidak efisien, biayanya itu Rp 2 triliun loh," kata Dirjen Pos dan Penyelenggaraan Informatika Ahmad M Ramli saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Rabu, 28 Februari 2018.

    Ahmad memaparkan, pembelian nomor baru masih dapat dipergunakan, selama diaktifkan dengan mendaftarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau Nomor Kartu Keluarga (KK). Terkait tengat waktu registrasi ulang nomor kartu prabayar seluler yang berakhir hari ini, Ahmad menyampaikan, jumlah nomor pelanggan yang telah diregisterasi hingga 28 Februari 2018 pukul 12.52 WIB yakni 305.782.219.

    Sementara menurut data Kemenkominfo, Ahmad mengatakan terdapat sekitar 360.000.000 nomor pelanggan yang beroperasi di Indonesia.

    Bagi pelanggan yang tidak melakukan registrasi ulang hinga 28 Februari 2018, maka pemblokiran layanan secara bertahap akan dilakukan mulai 1 Maret 2018.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.