Wall Street Mundur Lebih Lanjut di Tengah Laporan PDB

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi salah satu pialang saham saat bekerja di Bursa Efek New York, 24 Agustus 2015. Bursa saham Wall Street di New York anjlok selama lima hari berturut-turut menyusul turunnya pasar saham di Eropa dan Asia. REUTERS/Brendan McDermid

    Ekspresi salah satu pialang saham saat bekerja di Bursa Efek New York, 24 Agustus 2015. Bursa saham Wall Street di New York anjlok selama lima hari berturut-turut menyusul turunnya pasar saham di Eropa dan Asia. REUTERS/Brendan McDermid

    TEMPO.CO, New York -Saham-saham di Wall Street membalikkan kenaikan awal menjadi ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu (Kamis pagi, 1 Maret 2018). Hal ini karena para investor mencerna data pertumbuhan ekonomi AS yang baru dirilis.

    Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 380,83 poin atau 1,50 persen menjadi berakhir di 25.029,20 poin. Indeks S&P 500 mengalami penurunan 30,45 poin atau 1,11 persen menjadi ditutup pada 2.713,83 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 57,35 poin atau 0,78 persen menjadi berakhir di 7.273,01 poin.

    Baca: Bursa Saham Asia Diestimasi Melemah Mengekor Wall Street

    Produk Domestik Bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 2,5 persen pada kuartal keempat 2017, sesuai dengan konsensus pasar, menurut perkiraan kedua yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan pada Rabu, 28 Februari 2018. Pada kuartal ketiga, PDB riil meningkat 3,2 persen.

    PDB riil AS meningkat 2,3 persen pada 2017, yang terutama mencerminkan kontribusi positif dari pengeluaran konsumsi pribadi, investasi tetap non-residensial, dan ekspor, kata departemen tersebut.

    Pada berita ekonomi lainnya, setelah melihat kenaikan moderat dalam tiga bulan, penjualan "pending home" (rumah yang pengurusannya belum selesai atau tertunda) didinginkan pada Januari ke level terendah dalam tiga tahun, menurut National Association of Realtors, Rabu, 28 Februari 2018.

    Indeks Penjualan Pending Home turun 4,7 persen menjadi 104,6 pada Januari dari direvisi turun 109,8 pada Desember 2017, gagal memenuhi ekspektasi pasar.

    Sementara itu, para investor masih memilah-milah kesaksian dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Powell mengatakan dalam kesaksian kebijakan moneter pertamanya pada Selasa, 27 Februari 2018 bahwa meskipun terjadi volatilitas di pasar saham baru-baru ini, gubernur Fed masih berencana untuk menaikkan suku bunga beberapa kali sepanjang 2018.

    Ketua baru Fed tersebut mengisyaratkan bank sentral bisa menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini jika data ekonomi dan inflasi terus terbukti sehat.

    Baca berita lainnya tentang saham Wall Street di Tempo.co.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.