IHSG Ditutup di Zona Merah, 4 Emiten Besar Ini Melemah

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • UKM Binaan Bank BNI. TEMPO/Dinul Mubarok

    UKM Binaan Bank BNI. TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG bergerak di zona merah sepanjang perdagangan awal pekan hari ini. Dibuka melemah di level 6.615,375, indeks bergerak pada rentang 6.554,673-6.624,021 sebelum ditutup pada posisi 6.554,673.

    Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan terjadi akibat minimnya sentimen domestik. Sedangkan kabar rencana kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor eksternal penyumbang pelemahan.

    "Kenaikan suku bunga The Fed, yang diproyeksikan secepatnya pada bulan Maret, mempengaruhi para pelaku pasar untuk bersikap wait and see," katanya melalui pesan pendek, Senin, 26 Februari 2018.

    Baca: Dibuka dengan Pelemahan, IHSG di Sesi I Terus Tertekan

    Merujuk pada data RTI, saham empat perbankan besar tercatat mengalami penurunan, yakni BBNI, BBRI, BMRI, dan BBCA. Saham masing-masing perseroan secara berurutan melemah 0,25 persen, 1,32 persen, 2,92 persen, dan 2,99 persen.

    Begitu pula saham emiten konstruksi. Dari sejumlah emiten konstruksi besar, hanya ADHI yang bergerak menghijau dengan penguatan 20 poin atau 0,83 persen. Harga saham ADHI naik menjadi 2.440 pada penutupan perdagangan hari ini. Sedangkan WIKA, PTPP, UNTR, SMGR, WSKT, INTP, dan JSMR kompak bergerak ke zona merah. Penurunan indeks saham tiap emiten berkisar antara 0,52 persen dan 2,76 persen.

    Dari seluruh emiten yang terdaftar di bursa, tercatat 149 saham mengalami penguatan, 211 saham melemah, dan 127 stagnan. Ada 12,66 miliar volume saham yang diperdagangkan dalam 396.517 kali transaksi dengan nilai Rp 8,188 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?