Investor Amerika Buka Pengolahan Ikan Internasional di Sumbawa

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara permukiman warga di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar, NTB, 19 Desember 2015. Pulau yang memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa tersebut dijuluki pulau terpadat di dunia, dimana satu rumah dijadikan tempat tinggal 2 hingga 4 kepala keluarga. ANTARA/Ahmad Subaidi

    Foto udara permukiman warga di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar, NTB, 19 Desember 2015. Pulau yang memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa tersebut dijuluki pulau terpadat di dunia, dimana satu rumah dijadikan tempat tinggal 2 hingga 4 kepala keluarga. ANTARA/Ahmad Subaidi

    TEMPO.CO, Mataram - Mulai Kamis, 22 Februari 2018, investor asing, yang berbentuk perusahaan pengolahan ikan internasional, memulai produksinya di Teluk Saleh, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Investasinya sekitar Rp 30 miliar. PT Bali Seafood International (BSI) milik warga Amerika Serikat, Jerry Knechet, tersebut dijadwalkan akan melakukan ekspor perdana dalam bentuk fillet dan stick pada Maret 2018.

    ''Kapasitas produksi terpasang 10 ton sehari,'' kata Sidik, Plan Manager PT BSI kepada Tempo, Jumat siang, 23 Februari 2018. 

    Adapun ikan yang menjadi bahan bakunya adalah ikan demersal, yaitu ikan kakap dan ikan kerapu. PT BSI yang mempekerjakan 70 warga setempat memiliki gudang yang mampu menyimpan 200 ton.

    Simak: BKPM: Potensi Investasi Kelautan Capai US$ 1,2 Triliun

    Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat Lalu Hamdi, produksi ikan demersal di perairan sekitar Pulau Sumbawa mencapai 26 ribu ton setahun, termasuk ikan kakap dan kerapu yang mencapai 7.000 ton setahun. PT BSI masih mengutamakan pembelian ikan kakap dan kerapu saja. Khusus Teluk Saleh, produksi kerapu dan kakap mencapai 1.400 ton setahun. Sedangkan produksi ikan Teluk Saleh dari berbagai jenis ikan rata-rata 170 ton sehari. ''Pengolahan ini lebih baik dilakukan di sini. Ada nilai tambahnya untuk nelayan,'' ujarnya.

    Selama ini, nelayan menjual ikan tangkapannya kepada 18 pengusaha pengepul ikan, kemudian diteruskan kepada pengusaha pengumpul yang menjualnya ke Lombok, Bali, dan Jawa.

    ''Diharapkan PT BSI bisa melakukan komunikasi dengan mereka,'' ucapnya.

    Kamis kemarin, Sekretaris Daerah (Sekda) Nusa Tenggara Barat Rosiady Sayuti meresmikan pabrik pengolahan ikan pertama berkelas internasional yang berinvestasi di NTB. ''Saya meyakini bisa memberikan manfaat peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan perekonomian daerah kita,'' tuturnya.

    Sebelumnya, Sekda Kabupaten Sumbawa Rasyidi berharap PT BSI mampu meningkatkan penghasilan masyarakat nelayan Sumbawa di 18 kecamatan pesisir. ''Terutama yang ada di Desa Teluk Santong ini,'' katanya.

    Kehadiran investor asal Amerika ini merupakan salah satu pemacu terhadap percepatan pembangunan kawasan Teluk Saleh Moyo Tambora (Samota), yang merupakan kawasan strategis Pemerintah Provinsi NTB, dan pemerintah pusat pun menjadikan kawasan ini sebagai kawasan strategis nasional. Saat ini, masyarakat di sekitar perairan Teluk Santong dalam area Teluk Saleh juga sudah bisa menangkap jenis ikan tuna dan cakalang.

    Jumlah nelayan di sekitar Teluk Saleh ini sekitar 3.800 orang. Jadi, dengan adanya PT BSI, hasil nelayan bisa lebih mudah proses penjualannya, tidak harus mengirim hasil tangkapannya ke Bima atau Lombok dengan proses panjang, tapi langsung di satu tempat sehingga antara nelayan dan investor tersebut dapat saling menguntungkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.