Impor Barang Via E-Commerce Bisa Mematikan Produksi Dalam Negeri

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengaku khawatir soal dampak impor yang dilakukan melalui e-commerce terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bambang merujuk pada data pertumbuhan impor yang dirilis Badan Pusat Statistik. 

    Kendati impor mengalami pertumbuhan sebesar 14,7 persen, konsumsi dalam negeri tercatat melambat. Bambang mengatakan, kemungkinan penyebabnya yakni banyaknya impor dilakukan melalui e-commerce yang belum terekam oleh pemerintah.

    "Kok bisa impor tinggi tapi pertumbuhan konsumsi melambat. Menurut saya ini puzzle, tapi kemungkinan jawabannya adalah kehadiran e-commerce," kata Bambang dalam acara Quo Vadis Ekonomi Digital Indonesia di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu, 21 Februari 2018.

    Simak: JK Miris Produk Cina Rajai e-Commerce di Indonesia 

    Dia melanjutkan, membanjirnya barang impor yang diperjualbelikan di e-commerce diduga berkaitan dengan semakin banyaknya kepemilikan saham asing terhadap marketplace yang ada di Indonesia.

    "Ada indikasi kalau perusahaan dibeli asing, ada kemungkinan peningkatan impor barang-barang yang diperjualbelikan melalui online tersebut," tuturnya.

    Bambang memaparkan, kenaikan impor terjadi pada pakaian dan peralatan rumah tangga. Bambang berujar, dia khawatir peningkatan impor barang konsumsi ini berimbas mematikan produksi dalam negeri. Dia mengatakan, sektor manufaktur akan terdampak dan selanjutnya peningkatan pengangguran akan terjadi.

    "Terus terang saya agak khawatir dengan fenomena ini," kata Bambang.

    Maraknya penggunaan e-commerce untuk impor serta belum terekamnya data ini, kata Bambang, bakal segera disikapi oleh BPS. Bambang mengatakan telah meminta BPS mulai mengakomodasi big data dalam melakukan perhitungan statisik demi merespons fenomena dan tantangan ekonomi digital ini.

    "Kalau BPS masih menggunakan pendekatan tradisional akan banyak transaksi online yang tidak tercatat, boro-boro pajaknya," kata Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.