Agus Marto Sebut Penurunan Bunga Tak Diikuti Pertumbuhan Kredit

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo, membaca puisi dalam Pesta Rakyat Hari Pahlawan yang digelar Tempo dan BI di Museum Bank Indonesia, Kamis, 10 November 2016. (Tempochannel.com)

    Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo, membaca puisi dalam Pesta Rakyat Hari Pahlawan yang digelar Tempo dan BI di Museum Bank Indonesia, Kamis, 10 November 2016. (Tempochannel.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyebut pertumbuhan kredit perbankan masih terbatas meskipun suku bunga deposito dan kredit sudah turun. Bank sentral mencatat, selama periode Januari-Desember 2017, suku bunga deposito dan kredit terus menurun, masing-masing sebesar 65 basis poin dan 74 basis poin.

    Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial melalui jalur suku bunga yang terus berlangsung, menurut Agus, belum optimal sejalan dengan permintaan kredit yang belum tinggi. "Bank juga masih selektif memberikan kredit baru," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

    Baca: Kenapa Kredit Macet BPD Masih Tinggi?

    Pertumbuhan kredit 2017 tercatat hanya tumbuh 8,2 persen (year-on-year/yoy). Meskipun demikian, angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 7,9 persen (yoy).

    Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank juga membaik. Pada akhir tahun lalu, NPL bank turun menjadi 2,6 persen (gross) atau 1,2 persen (net). Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada 2017 tercatat 9,4 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 9,6 persen (yoy).

    Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit dan DPK akan lebih baik pada 2018, masing-masing dalam kisaran 10-12 persen (yoy) dan 9-11 persen (yoy). Dari sisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23 persen, perbankan Indonesia dinilai cukup kuat. Rasio likuiditas juga cukup baik, sebesar 21,5 persen pada Desember 2017.

    Sementara itu, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN), terus mengalami peningkatan 29,8 persen pada 2017, sejalan dengan program pendalaman pasar keuangan BI.

    Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Anton Hendranata sebelumnya mengatakan pertumbuhan kredit tahun ini akan lebih baik, ditopang oleh sektor retail dan manufaktur. "Kalau manufaktur dan retail didorong, pertumbuhan kredit bisa terakselerasi. Saya prediksi tahun ini bisa tumbuh 10-11 persen," katanya.

    Manufaktur dan retail merupakan dua sektor yang mendominasi pertumbuhan kredit tahun lalu. Berdasarkan hasil riset Danamon, manufaktur mencakup 18,1 persen dan retail mencakup 20 persen dari total pertumbuhan kredit.

    Lebih lanjut, Anton menerangkan bahwa pertumbuhan kredit tahun lalu seharusnya bisa lebih tinggi. Sebab, pertumbuhan kredit per November 2017 dalam rupiah tumbuh sekitar 7,9 persen. Namun, jika dirata-ratakan dengan valas yang tumbuh sebesar 5,2 persen, totalnya turun menjadi 7,5 persen.

    Meskipun demikian, Anton yakin pertumbuhan kredit valas akan meningkat tahun ini karena perdagangan diprediksi membaik. "Kalau perdagangan bergerak lagi, khususnya impor, kebutuhan kredit valas akan meningkat," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.