Kamis, 24 Mei 2018

Neraca Perdagangan Defisit, Sri Mulyani Sebut Positif, jika...

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo, berbincang dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawat. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo, berbincang dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawat. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sejumlah komponen dalam defisit neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2018 ini harus tetap dijaga. Sebab, defisit yang terjadi akibat kenaikan nilai impor Indonesia bisa menjadi indikator yang cukup sehat jika didominasi oleh bahan baku dan barang modal.

    "Jadi itu merefleksikan kebutuhan dalam negeri untuk produksi, positif untuk manufaktur maupun investasi," kata Sri saat ditemui seusai acara pemusnahan barang sitaan di Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai, Jakarta Timur, Kamis, 15 Februari 2018.

    Baca: Sri Mulyani Jelaskan Alasan Ekonomi Hanya Tumbuh 5 Persen

    Defisit neraca perdagangan memang diakibatkan oleh impor yang tumbuh lebih cepat. Namun demikian, Sri menambahkan, Indonesia harus tetap menjaga capital inflow agar terus meningkat. Upaya ini perlu untuk menghindari persepsi bahwa impor membesar sebagai dampak dari risiko eksternal bagi Indonesia.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2018 mengalami defisit hingga US$ 0,68 miliar atau setara Rp 9,1 triliun (month-to-month/mtm). Dibanding Desember 2017, ekspor Januari 2018 menurun 2,81 persen. Sebaliknya, impor naik sekitar 0,26 persen.

    Jika dilihat secara year-on-year (yoy), kondisi tidak jauh berbeda bahkan lebih buruk. Nilai ekspor Indonesia per Januari 2018 hanya meningkat 7,86 persen (yoy), sedangkan impor tumbuh lebih cepat mencapai 26,44 persen (yoy).

    Tidak seperti perkiraan Sri Mulyani, kenaikan nilai impor bulan ini justru lebih didominasi oleh barang konsumsi. Impor barang konsumsi tumbuh 32,98 persen (mtm) atau lebih dari pertumbuhan bahan baku dan barang modal, masing-masing 24,76 persen (mtm) dan 30,90 persen (mtm).

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai defisit neraca perdagangan Januari 2018 ini terjadi akibat kenaikan harga minyak dan gas. Menurut dia, defisit minyak mentah mencapai US$ 256,3 juta, sedangkan gas bernasib lebih lebih baik dengan surplus US$ 631 juta. "Karena memang kenaikan harga migas membuat nilai impor meningkat. Tapi secara tahunan masih terjadi kenaikan," kata Enggar.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Ganjil Genap Diperluas, Uji Coba Dilakukan Juli 2018

    Perluasan aturan ganjil genap di Jakarta akan dimulai Juli 2018. Ini berlaku selama pelaksanaan Asian Games dan mungkin akan dipertahankan.