BPS: Cina Masih Jadi Tujuan Ekspor RI

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan Pusat Statistik atau BPS menyebutkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2018 mencapai US$ 14,46 miliar. Angka tersebut turun 2,81 persen dibandingkan Desember 2017 sebesar US$ 14,79 miliar.

    "Sementara dibandingkan Januari 2017 lalu meningkat 7,86 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam paparan perkembangan ekspor dan impor Indonesia Januari 2018 di Jakarta, Kamis, 15 Februari 2018.

    Suhariyanto menyebutkan Cina menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada bulan Januari 2018 sebesar US$ 1,92 miliar. Serta disusul oleh Amerika Serikat sebesar US$ 1,54 miliar dan Jepang sebesar US$ 1,39 miliar. "Kontribusi ketiganya mencapai 36,81 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa dalam 28 negara sebesar US$ 1,36 miliar," ujarnya.

    Di sisi lain, Suhariyanto menambahkan ekspor Indonesia terbesar menurut provinsi asal barang berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 2,58 miliar atau 17,81 persen. Selain itu ada juga provinsi Jawa Timur sebesar US$ 1,51 miliar atau 10,43 persen. "Kalimantan Timur juga sebesar US$ 1,5 miliar atau 10,35 persen," ucapnya.

    Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor salah satunya terjadi di sektor nonmigas. Nilai ekspor sektor ini turun 1,45 persen dibandingkan Desember 2017, sementara naik dibanding bulan Januari 2017. "Ekspor nonmigas Januari 2018 sebesar US$ 13,17 miliar," katanya.

    Ekspor migas juga turun 14,85 persen dari US$ 1,59 miliar menjadi US$ 1,28 miliar. Hal ini, kata Suhariyanto, disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 26,31 persen menjadi US$ 89,3 juta serta ekspor minyak mentah 37,52 persen menjadi US$ 317,3 juta. "Ekspor gas juga turun 0,19 persen menjadi US$ 879,1 juta," tuturnya.

    Menurut Suhariyanto, penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2018 terhadap Desember 2017 terjadi pada beberapa golongan barang. Seperti bijih, kerak serta abu logam sebesar US$ 370,9 juta atau 49,13 persen. "Sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan atau permata sebesar US$ 253,5 juta atau 78,40 persen," ucapnya.

    Suhariyanto berujar, menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada bulan Januari 2018 naik sebesar 6,85 persen dibanding bulan yang sama tahun 2017. Selain itu, ekspor hasil tambang dan lainnya juga naik 19,64 persen. "Sementara ekspor hasil pertanian turun 8,27 persen," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.