Anak Usaha Garuda Indonesia Kantongi Kontrak US$ 2,4 Miliar

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Iwan Joeniarto saat jumpa wartawan di ruang perawatan mesin pesawat GMF di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Jawa Barat, 25 Oktober 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Iwan Joeniarto saat jumpa wartawan di ruang perawatan mesin pesawat GMF di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Jawa Barat, 25 Oktober 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk berhasil membukukan perjanjian kerja sama senilai US$ 2,4 miliar selama enam hari perhelatan Singapore Airshow 2018. Direktur Utama Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Iwan Joeniarto mengatakan keberhasilan itu ditorehkan bersama Garuda Indonesia Group yang ikut serta dalam ajang pameran kedirgantaraan terbesar di Asia itu pada 6-11 Februari 2018.

    Dia merinci porsi nilai kontrak yang diperoleh emiten dengan kode saham GMFI itu adalah US$ 1,7 miliar berasal dari pendapatan perawatan pesawat dari maskapai afiliasi serta beberapa mitra strategis seperti yang tercatat dalam prospektus saat perusahaan melantai pada bursa Oktober 2017.

    Untuk nilai kontrak sisanya US$ 700 juta, merupakan kontrak baru. "Sebagai perusahaan publik, kami senantiasa berusaha untuk memenuhi janji kami," katanya, Selasa, 13 Februari 2018.

    Dia memaparkan salah satu janji yang direalisasikan perusahaan adalah penandatanganan kerja sama untuk ekspansi di kawasan Timur Tengah dan juga Australia. Untuk pasar Timur Tengah, GMFI menggandeng DME Aviation Service DWC LLC yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab.

    Khusus pasar Australia, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk itu bermitra dengan Aviation Global Pty Ltd (KORR) untuk membuka cabang bengkel pesawat di Negeri Kanguru yang ditargetkan beroperasi tahun ini. "Mitra telah melakukan kesepakatan dengan kami dan selanjutnya akan dilakukan pembahasan untuk mempersiapkan operasionalnya," tuturnya.

    Iwan juga menambahkan, area ekspansi ke Timur Tengah dan Australia tersebut menjadi pilihan karena memiliki potensi pasar perawatan yang cukup tinggi, khususnya dalam bidang line maintenance. Dengan kemitraan strategis itu, GMFI dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi lagi dibanding perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance repair and overhaul (MRO) kelas dunia lainnya. “Dengan bermitra kami harap dapat menyerap lebih besar lagi pasar perawatan pesawat dunia untuk pendapatan yang lebih besar lagi,” ujarnya.

    Untuk ekspansi tersebut, Iwan juga turut menyiapkan tenaga kerja yang diproyeksikan dapat membantu proyek ekspansi ke pasar internasional. Menurut dia, sembilan politeknik telah berkomitmen untuk mencetak lulusan siap kerja di GMFI. Kesembilan politeknik itu adalah Politeknik Negeri Medan, Universitas Suryadharma, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Negeri Batam, dan Sekolah Tinggi Teknik Adisucipto.

    “Komitmen ini juga dikukuhkan dalam ajang Singapore Airshow 2018 ini. Setelah lulus, nantinya siswanya siap pakai, memiliki basic license dan bisa langsung bekerja,” ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.