Manufaktur Disebut Kunci Pertumbuhan, Ini Respons Menperin

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mekanik memperbaiki mesin tenun yang rusak di Pabrik Tekstil Perintis, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 2017. Kebanyakan produksi di pabrik tekstil Perintis ini rutin dikirim ke NTB dan Bali, dimana kebanyakan tenunan berupa kain sarung dan harus dilakukan pengolahan lanjutan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Seorang mekanik memperbaiki mesin tenun yang rusak di Pabrik Tekstil Perintis, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 November 2017. Kebanyakan produksi di pabrik tekstil Perintis ini rutin dikirim ke NTB dan Bali, dimana kebanyakan tenunan berupa kain sarung dan harus dilakukan pengolahan lanjutan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sektor industri masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan capaian 20,16 persen pada 2017. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan nonmigas adalah sebesar 5,14 persen pada  kuartal keempat 2017, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2016, yang mencapai sekitar 3,91 persen.

    Dari data tersebut, kontributor terbesar PDB selanjutnya adalah sektor pertanian, yang menyumbangkan hingga 13,14 persen, perdagangan (13,01 persen), konstruksi (10,38 persen), dan pertambangan (7,57 persen).

    Baca: Chatib Basri Sebutkan Kunci Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

    “Kementerian Perindustrian terus mendorong investasi dan ekspansi di sektor manufaktur agar semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Airlangga, melalui keterangan tertulis, Rabu, 7 Februari 2018.

    Airlangga memaparkan bahwa subsektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada kuartal keempat 2017 adalah industri makanan dan minuman sebesar 13,76 persen, industri mesin dan perlengkapan 9,51 persen, industri logam dasar 7,05 persen, serta industri tekstil dan pakaian jadi 6,39 persen.

    Capaian-capaian ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen sepanjang tahun 2017. Airlangga menegaskan, pihaknya tengah fokus memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor, seperti sektor tekstil, clothing, dan footwear, yang sampai sekarang tetap menjadi andalan karena memiliki daya saing tinggi.

    Tren ekspor industri ini, menurut Airlangga, terus meningkat. "Kami berharap tahun ini bisa memenuhi target US$ 135 miliar atau naik sekitar 8 persen dari perolehan tahun 2017. Dan kami proyeksikan bisa mencapai US$ 143,22 miliar pada 2019,” ucapnya.

    Sebelumnya, mantan Menteri Keuangan Indonesia, Chatib Basri, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 6 hingga 7 persen tidak akan bisa dicapai tanpa inovasi kebijakan yang signifikan. Menurut dia, pemerintah harus mulai melakukan reformasi di berbagai sektor ekonomi. Salah satunya di sektor manufaktur.

    "Saya rasa, kita harus bisa melebihi instrumen makro yang ada," kata Chatib, dalam sesi diskusi di acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2018, di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018. Acara yang digelar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Mandiri Sekuritas ini sendiri diikuti lebih dari 600 investor dan pelaku bisnis, dari dalam dan luar negeri.

    Menurut Chairman of Advisory Board Mandiri Institute ini, ekspansi pemerintah melalui pembangunan infrastruktur saja tidaklah cukup. Sebab, secara total, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya menyumbang sekitar 10 persen dari PDB. Sehingga, menurut dia, tidak ada cara lain mencapai angka pertumbuhan ekonomi tersebut selain meningkatkan kapasitas manufaktur. "Namun, sayangnya, Indonesia memiliki keterbatasan sumber daya manusia (SDM)," kata Chatib.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?