Nilai Bitcoin Menurun, Dijual di Bawah Level USD 7.000

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bitcoin.  KAREN BLEIER/AFP/Getty Images

    Ilustrasi bitcoin. KAREN BLEIER/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai Bitcoin terus turun dalam lima hari terakhir, bahkan hingga di bawah level US$ 7.000 untuk pertama kalinya sejak November 2017 dan menyeret mata uang virtual lainnya ikut turun.

    Pelemahan ini menyusul meningkatnya reaksi dari bank sentral dan regulator pemerintahan terhadap kegilaan spekulatif yang membuat harga cryptocurrency meroket tahun lalu.

    Mata uang virtual terbesar ini diperdagangkan pada level US$ 6.777 pada pukul 6.20 WIB menurut data Coinbase. Bitcoin telah merosot sekitar 65 persen dari rekor tertinggi US$ 19.511 pada bulan Desember 2017. Koin lain, yang juga disebut altcoins, juga merosot pada Senin, 5 Februari 2018, dengan Ripple turun hingga 21 persen. Ethereum dan Litecoin juga melemah.

    Baca juga: Facebook Bakal Blokir Iklan yang Promosikan Bitcoin

    "Meskipun tidak ada faktor fundamental yang memicu pelemahan ini, pertumbuhan parabolik yang dialami pasar ini melambat pada titik tertentu," ungkap Lucas Nuzzi, analis senior di Digital Asset Research, seperti dikutip Bloomberg.

    Sejumlah berita negatif telah menekan harga aset Bitcoin dalam sepekan terakhir. Lloyds Banking Group Plc bergabung dengan sejumlah penerbit kartu kredit besar, termasuk JPMorgan Chase & Co. dan Bank of America Corp, dan mengatakan bahwa mereka menghentikan pembelian cryptocurrency dengan kartu yang diterbitkan.

    Pelemahan Bitcoin sejak Natal tahun lalu bertepatan dengan investor yang berangsur keluar dari aset berisiko di seluruh pasar modal, dengan bursa saham mundur di seluruh dunia.

    Regulator di sejumlah negara juga berusaha mengontrol perdagangan aset berisiko ini. Cina akan memblokir semua situs web, termasuk platform luar negeri terkait dengan perdagangan cryptocurrency dan penawaran koin perdana (initial coin offering/ICO) dalam upaya untuk meredakan spekulasi di pasar, menurut laporan South China Morning Post yang dilansir Bloomberg.

    Baca juga: Saingi Bitcoin, Nilai Aladin Coin Diyakini Akan Tembus Rp135 Juta

    Sementara itu, pihak berwenang di Korea Selatan dan negara-negara lain mempertimbangkan peningkatan pengawasan dan peraturan terhadap industri ini, yang memicu aksi jual yang sedang berlangsung.

    Namun, sejumlah pendukung Bitcoin tetap tidak peduli terhadap sejumlah sentimen negatif tersebut.

    "Ada beberapa katalisator, orang-orang yang membayar pajak, dan pembalikan tren secara umum. Secara keseluruhan, pelemahan ini tergolong sehat mengingat reli penguatan pada bulan November-Januari," ungkap Kyle Samani, managing partner di hedge fund cryptocurrency, Multicoin Capital.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.