BPS: Ekspor Barang dan Jasa Jadi Komponen Pertumbuhan Tertinggi

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat perekonomian Indonesia pada 2017, yang diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku, mencapai Rp 13.588 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp 51,89 juta.

    Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,07 persen, atau lebih tinggi dibanding pada 2016 yang tercatat 5,03 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT), pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT), pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P), pembentukan modal tetap bruto (PMTB), serta ekspor barang dan jasa.

    Baca: BPS: Pertumbuhan Ekonomi 2017 Capai 5,07 Persen 

    "Ekspor barang dan jasa menjadi komponen pertumbuhan tertinggi sebesar 9,09 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin, 5 Februari 2018. Diikuti komponen PK-LNPRT sebesar 6,91 persen dan komponen PMTB sebesar 6,15 persen. 

    "Realisasi investasi riil jadi kuartal keempat juga naik 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp 179,6 persen," ujar Suhariyanto. 

    Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan, komponen PK-RT menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017, yakni sebesar 2,69 persen dan komponen PMTB sebesar 1,98 persen.

    Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan pengeluaran triwulan keempat 2017, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen ekspor barang dan jasa sebesar 8,50 persen, yang diikuti pertumbuhan PMTB sebesar 7,27 persen, komponen PK-LNPRT 5,24 persen, PK-RT sebesar 4,97 persen, dan PK-P 3,81 persen.

    Sementara itu, komponen impor barang dan jasa tumbuh 11,81 persen. Namun impor merupakan faktor pengurang dalam PDB.

    Di sisi lain, struktur PDB Indonesia, menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku, tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi komponen PK-RT yang mencakup lebih dari setengah PDB Indonesia.

    Jika dibandingkan dengan struktur PDB menurut pengeluaran triwulan ketiga 2017, peranan komponen PK-RT meningkat dari 55,73 persen menjadi 56,22 persen di triwulan keempat 2017. 

    Baca berita lain tentang BPS di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?