Awal Pekan Februari, IHSG Diprediksi Lampaui Target Resisten

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Laju IHSG tembus rekor tertinggi di angka 6.355,65 atau tumbuh 19,99% sesuai dengan prediksi analis pasar dan ekonom.

    Laju IHSG tembus rekor tertinggi di angka 6.355,65 atau tumbuh 19,99% sesuai dengan prediksi analis pasar dan ekonom.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada perdagangan bursa saham Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin, 5 Februari 2018 diperkirakan masih akan terjadi aksi beli. Analis Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan meski demikian laju IHSG yang ditopang aksi beli masih dibayangi aksi jual dari para investor.

    "Kenaikan ini di tengah pelemahan yang terjadi pada sejumlah bursa saham global, meningkatnya imbal hasil obligasi, dan kembali terdepresiasinya Rupiah sehingga memiliki peluang pelemahan," kata Reza seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Senin, 5 Februari 2018.
     
    Simak: Dirut BEI: Program Startup Perlu Dikapitalisasi di Bursa Saham

    Reza mengatakan pergerakan IHSG hari ini diprediksi mampu melampaui tipis target resisten 6615-6628. Diperkirakan IHSG akan berada di kisaran support 6587-6608 dan resisten 6647-6666.

    Reza berujar bahwa diharapkan, aksi jual dapat lebih terbatas sehingga IHSG masih dapat bertahan di zona positifnya. "Tetap waspadai masih adanya aksi-aksi profit taking yang dapat membuat IHSG kembali tertahan kenaikannya," kata dia. 
     
    Sebelumnya, pada perdagangan akhir pekan lalu, laju IHSG tercatat menguat sebesar 30,36 poin atau 0,46 persen. Level tersebur berada di atas pelemahan sebelumnya yang turun 7,17 poin atau 0,11 persen.
     
    Pergerakan IHSG akhir pekan kemarin diwarnai dengan penguatan lewat kembalinya aksi beli yang terjadi dengan memanfaatkan pelemahan sebelumnya. Namun, aksi beli yang membuat IHSG menyentuh level 6.655,13 tidak mampu bertahan dan cenderung terkoreksi tipis sehingga membuat IHSG melemah. 
     
    Kendati begitu, masih mendominasinya volume beli mampu menahan pelemahan tersebut hingga akhirnya ditutup positif di akhir perdagangan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.