Pendapatan Merosot, Saham Induk Perusahaan Google Ikut Anjlok

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Merayakan ulang tahun ke-127 Wilder Penfield, Google Doodle tampilkan sosok ilmuan terkenal tersebut. Google Doodle menampilkan sosok Wilder Penfield yang di sampingnya terlihat ilustrasi otak, mata, hidung dan roti bakar yang menggambarkan secara singkat inti penemuannya soal bagian otak yang mampu mengingat aroma roti bakar. google.com

    Merayakan ulang tahun ke-127 Wilder Penfield, Google Doodle tampilkan sosok ilmuan terkenal tersebut. Google Doodle menampilkan sosok Wilder Penfield yang di sampingnya terlihat ilustrasi otak, mata, hidung dan roti bakar yang menggambarkan secara singkat inti penemuannya soal bagian otak yang mampu mengingat aroma roti bakar. google.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Saham perusahaan induk Google, Alphabet, turun hampir 3 persen pada perdagangan after-hours pada Kamis, 1 Februari 2018. Saham anjlok setelah Alphabet melaporkan pendapatan kuartal keempat 2017 yang tercatat meleset dari target ekspektasi Wall Street.

    Pendapatan disesuaikan Alphabet mencapai US$ 9,70 per saham, di bawah ekspektasi Wall Street sebelumnya pada angka US$ 9,98. Pengeluaran Alphabet juga cukup meningkat untuk akuisisi traffic dan proyek ambisius self-driving car. Tagihan pajak Alphabet pun mencapai US$ 9 miliar sehingga perusahaan mengalami kerugian bersih lebih dari US$ 3 miliar.

    Kendati begitu, pendapatan keseluruhan Alphabet masih lebih dari perkiraan Wall Street, yakni US$ 32,3 miliar atau naik 24 persen. Seperti biasanya, sebagian besar (84 persen) pendapatan ini disumbang oleh Google.

    "Google mencatatkan pendapatan US$ 27,2 miliar, naik 21 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya," kata Chief Financial Officer Alphabet Ruth Porat, seperti dilansir The Washington Post pada Kamis.

    Menurut eMarketeer, Google akan menguasai 42 persen pangsa pasar Amerika Serikat untuk iklan digital pada tahun ini. Adapun analis UBS, Eric Sheridan, mengatakan Alphabet berpeluang kuat memiliki sumber pendapatan selain periklanan, yakni pengembangan teknologi yang mencakup mobile, machine learning, dan cloud.

    Bisnis penyimpanan (cloud) Google dilaporkan meraup pendapatan lebih dari US$ 1 miliar per kuartal. Google ingin memposisikan platform cloud-nya sebagai pesaing Amazon Web Services dan Microsoft's Azure. Namun Google enggan mengungkapkan angka penjualan bisnis cloud ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.