GP Farmasi: DNA Babi Bukan Kesengajaan Pabrikan

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • GP Farmasi Indonesia. pubinfo.id

    GP Farmasi Indonesia. pubinfo.id

    TEMPO.CO, Jakarta -GP Farmasi meyakini temuan produk farmasi yang positif mengandung DNA babi bukan disebabkan oleh kesengajaan pabrikan.

    Vincent Harijanto, Ketua Penelitian dan Pengembangan Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi), mengatakan BPOM memiliki alat tes untuk mendeteksi kehalalan produk yang sangat sensitif, sehingga tidak memungkinkan pabrikan farmasi melakukan kesengajaan dengan menggunakan bahan-bahan dan proses produksi yang tidak halal.

    Terkait dengan kewajiban penerapan sertifikasi halal untuk produk makanan dan farmasi, Vincent menyatakan asosiasi meminta perpanjangan waktu kepada pemerintah untuk mempersiapkan karena memang tidak mudah untuk menerapkan sertifikasi halal bagi seluruh produk farmasi. Selain itu, beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Muslim juga tidak semua menerapkan sertifikasi halal untuk produk farmasi.

    Baca: BPOM: Viostin dan Enzyplek Ditarik Karena Mengandung Babi 

    Dia menyebutkan sertifikasi halal untuk produk makanan akan diterapkan pada tahun ini dan untuk produk farmasi pada 2019. "Namun, ini bukan berarti kami tidak mau memenuhi anjuran pemerintah, kami akan terus berusaha," tegasnya

    Pabrikan di dalam negeri juga banyak bergantung pada bahan baku impor. “Dalam upaya memastikan kehalalan bahan baku, pabrikan menemui kesulitan karena harus tracking sampai ke hulu,” ujar Vincent, saat dimintai tanggapan terkait penarikan produk farmasi yang positif mengandung DNA babi.

    Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menginstruksikan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia untuk memantau dan melakukan penarikan produk yang tidak memenuhi ketentuan, termasuk yang positif mengandung DNA babi.

    Berdasarkan keterangan resmi, hasil pengawasan terhadap produk yang beredar di pasaran melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa dua produk terbukti positif mengandung DNA babi, yaitu Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771 nomor bets BN C6K994H, dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101.

    BPOM telah menginstruksikan Pharos Indonesia dan Medifarma Laboratories untuk menghentikan produksi dan/atau distribusi produk dengan nomor bets tersebut. "Pharos Indonesia dan Medifarma Laboratories telah menarik seluruh produk Viostin DS dan Enzyplex dengan NIE dan nomor bets tersebut dari pasaran, serta menghentikan produksi produk," demikian keterangan resmi BPOM, Selasa, 30 Januari 2018.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.