Presiden Jokowi Sindir Ekspor Indonesia Kalah dengan Tetangga

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara saat memberikan keterangan pers bersama Presiden Afganistan Ashraf Ghani setelah menggelar pertemuan di Istana Presiden Arg, Kabul, Afganistan, 29 Januari 2018. REUTERS/Massoud Hossaini/Pool

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara saat memberikan keterangan pers bersama Presiden Afganistan Ashraf Ghani setelah menggelar pertemuan di Istana Presiden Arg, Kabul, Afganistan, 29 Januari 2018. REUTERS/Massoud Hossaini/Pool

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyindir dan menyebut ada yang salah dengan ekspor Indonesia, yang masih kalah dengan negara tetangga di ASEAN.

    Presiden menyebut ekspor Indonesia pada 2017, yang mencapai US$ 145 miliar, masih kalah dengan Thailand yang mencapai US$ 231 miliar, Malaysia US$ 184 miliar, dan Vietnam yang mencapai US$ 160 miliar.

    "Negara sebesar ini kalah dengan Thailand. Dengan resources dan SDM yang sangat besar, kita kalah. Ini ada yang keliru dan harus ada yang diubah," kata Jokowi, saat pidato pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan 2018, di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 31 Januari 2018.

    Baca: Di Afganistan, Presiden Jokowi Emoh Gunakan Rompi Antipeluru 

    Menurut Jokowi, Kementerian Perdagangan bertanggung jawab meningkatkan ekspor Indonesia. "Ini tanggung jawab saudara sekalian," katanya.

    Jokowi menyebut ada kekeliruan yang harus dibenahi sehingga ekspor Indonesia tidak kalah dengan negara-negara tetangga yang jumlah penduduk dan sumber dayanya masih di bawah Indonesia.

    Jokowi juga mengatakan Indonesia terlalu monoton dan mengurus pasar tradisional saja, serta tidak mau membuka pasar baru.

    "Kita enggak lihat Pakistan yang penduduknya 270 juta dibiarkan dan tidak diurus. Bangladesh, misalnya, penduduknya tidak kecil, 160 juta ini pasar besar. Meski sudah surplus, angkanya terlalu kecil. Afrika tidak pernah kita tengok, bahkan ada expo di sana kita tidak ikut. Kesalahan seperti ini yang rutin dan tidak pernah diperbaiki," tutur Jokowi.

    Jokowi mengingatkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita agar melakukan evaluasi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

    "Setelah pembukaan (raker), tolong Pak Menteri secara detail dievaluasi dan apa yang harus dilakukan. Jangan raker tapi tidak memunculkan sesuatu yang baru dan tidak memunculkan ide baru, gagasan baru, agar kita bisa bersaing dengan negara lain," katanya.

    Presiden Jokowi di awal pidatonya juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya didorong oleh dua hal, yakni investasi dan ekspor.

    "Sudah berulang kali saya sampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuncinya ada dua. Bagaimana kita bisa meningkatkan investasi dan meningkatkan ekspor, hanya itu, enggak ada yang lain. Karena itu, Kementerian Perdagangan sangat berperan sekali, terutama di satu hal, ekspor," kata Jokowi.

    Dalam pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan ini, beberapa menteri dan kepala lembaga hadir, di antaranya Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purnawirawan) Moeldoko.

    Simak berita lainnya tentang Jokowi di Tempo.co.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.