50 Hektare Kebun Kelapa Sawit di Siak Beralih Fungsi Jadi Sawah

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah gubuk berada di tengah area hutan yang telah ditebang dan dibakar untuk kebun kelapa sawit di Provinsi Riau, 21 Februari 2017. Mayoritas akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan yang sering dibarengi dengan pembakaran lahan. ANTARA/FB Anggoro

    Sebuah gubuk berada di tengah area hutan yang telah ditebang dan dibakar untuk kebun kelapa sawit di Provinsi Riau, 21 Februari 2017. Mayoritas akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan yang sering dibarengi dengan pembakaran lahan. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Siak -Seluas 50 hektare perkebunan Kelapa Sawit milik warga di Kabupaten Siak beralih fungsi menjadi sawah. Harga jual padi dianggap lebih menguntungkan dan membuat petani sawit mulai meninggalkan kelapa sawit.

    "Jumlahnya akan terus bertambah, masyarakat menumbangkan sawit untuk menanam padi," kata Bupati Siak Syamsuar, seusai menghadiri panen raya, di Siak, Senin, 29 Januari 2018.

    Baca: Bupati Siak Mengutuk Keras Upaya Pembakaran Istana Sri Indrapura

    Syamsuar mengatakan, Pemerintah kabupaten Siak sejak enam tahun terakhir terus berupaya mengembangkan persawahan untuk mencapai target swasembada pangan sebagaimana perintah Presiden RI Joko Widodo. Sejauh ini, sudah ada 8000 hektare sawah di lima kecamatan di Siak dengan nilai produksi rerata pertahunnya mencapai 35,504 ton.

    "Sejalan dengan program pemerintah pusat tentang ketahanan pangan," tukasnya.

    Menurut Syamsuar, beberapa kepala desa di Kecamatan Sabak Auh belum lama ini meminta pemerintah memfasilitasi penumbangan kelapa sawit untuk dijadikan sawah. Alasannya, nilai produksi kelapa sawit saat ini lebih rendah dari padi.

    "Kami siap memfasilitasi peralatan, namun dengan catatan tidak ada protes kemudian hari," ucapnya.

    Syamsuar menjelaskan, jumlah rerata panen padi di Siak sejak enam tahun terakhir mencapai 35,504 Ton pertahun. Nilai porduksi tersebut jauh meningkat di banding tahun 2011 lalu sebesar 25,08 persen atau 28,220 Ton. Sementara jumlah rerata produksi padi dalam satu hektare mencapai 4.514 Ton, mengalami peningkatan dari masa produksi enam tahun lalu (2011) yakni 4.078 Ton per hektare.

    "Sejak 2011 kami fokus mengembangkan padi dengan peningkatan 18 persen selama enam tahun kemudian," ujarnya.

    Syamsuar mengaku terus berupaya meningkatkan target produksi padi mencapai 50 Ton per tahun untuk mencapai swasembada pangan. Pihaknya berharap adanya dukungan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendukung program perluasan lahan, pompanisasi dan irigasi.

    Pada tahun 2018 ini, Pemerintah kabupaten Siak kembali menggalakkan program cetak sawah di Kecamatan Sungai Apit. Dalam hal ini, masyarakat bakal mendapat pendampingan dan penyuluhan dari TNI Angkatan Darat sebagai lembaga yang dilibatkan dalam ketahanan pangan.

    "Kami akan selalu siap untuk masyarakat, keberhasilan pemerintah dalam ketahanan pangan adalah keberhasilan kami juga," kata Komandan Korem Wirabima 031 Pekanbaru Brigadir Jenderal Edy Nasution.

    Petani asal Kecamatan Bunga Raya, Maimanah mengaku memiliki sawah seluas satu hektare. Dalam sekali panen ia mampu menghasilkan Rp 24 juta dalam rentang waktu enam bulan. Selain diserap pengusaha lokal, Gabah petani Siak juga diminati pengusaha penggilingan asal Sumatera Utara.

    Baca berita lainnya tentang sawit di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.