Kemenhub Akan Lakukan Ini Agar Pilot Muda Tak Menganggur

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai sesi foto bersama di Dermaga Pelabuhan Benoa, Bali pada Rabu, 10 Januari 2018. (Andita Rahma)

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai sesi foto bersama di Dermaga Pelabuhan Benoa, Bali pada Rabu, 10 Januari 2018. (Andita Rahma)

    TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Perhubungan melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi banyaknya pilot muda menganggur karena tidak terserap oleh perusahaan maskapai penerbangan. Sejumlah kebijakan seperti pelatihan tambahan hingga merger (penggabungan) sekolah penerbangan mulai dilakukan secara bertahap

    "Saya minta sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas lulusan masing-masing dengan memberikan pelatihan tambahan," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat ditemui usai menghadiri acara Wisuda Taruna Diploma II Penerbangan STPI, Angkatan 67, Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), Curug, Tangerang, Sabtu, 27 Januari 2018.

    Upaya ini, kata Budi, telah mulai diberikan pada 50 lulusan STPI yang lulus tahun ini. Para pilot muda akan diberikan pelatihan Airline Transport Pilot Licence (ATPL) Ground selama satu bulan dan Multi Engine Rating selama 15 jam terbang. "Kami ingin jadi lulusan terbaik," ujarnya.

    Persoalan terkait dengan pilot lulusan penerbangan ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Rabu, 24 Januari 2018. Ia mengungkapkan, sekitar 600 pilot pemula menganggur. Terlebih, ratusan pilot tersebut adalah pilot baru dengan nol jam terbang, tetapi sudah meraih sertifikat pilot komersial.

    Masalah lain pun muncul, meski suplai pilot baru melebihi kebutuhan tetapi maskapai juga mengeluhkan, kompetensi calon pilot yang tersedia banyak tidak memenuhi standar kualifikasi. Salah satunya, dikatakan Direktur Operasi Lion Air Group Daniel Putut, yakni dari 150 kuota penerimaan pilot di maskapainya, hanya dua yang berhasil lulus sesuai dengan persyaratan.

    Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air Group Agus Soedjono juga menyampaikan hal yang sama. Menurut dia, banyak calon pilot lulusan sekolah penerbangan yang tidak tertampung di sejumlah maskapai penerbangan. Salah satu alasan adalah kebutuhan terhadap pilot tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang ada.

    Selain itu, Budi mendorong agar sekolah penerbangan bisa melakukan merger. Tujuannya, agar kualitas lulusan bisa lebih ditingkatkan. Saat ini, sudah dua sekolah penerbangan yang ditutup oleh Kementerian Perhubungan. "Sisa 17 sekolah, kami ingin mereka merger jadi 10 atau 12 saja," ujarnya.

    Budi menyadari, sekolah penerbangan sempat berkeluh kesah. Lulusan sekolah pilot tak terserap karena standar dari maskapai yanh terlalu tinggi. Tapi Budi justru menyebut pola pikir seperti itu keliru. "Mikirnya gak boleh gitu, tapi justru bagaimana mencapai standar itu," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.