BRI Catat Laba Bersih Rp 29,04 Triliun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di depan penukaran uang atau money changer Bank BRI di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang berbatasan dengan Papua Nugini, di Jayapura, Papua, 14 November 2017. Halaman depan Indonesia di ujung timur ini dipercantik pada pertengahan tahun ini.  TEMPO/ Nita Dian

    Warga melintas di depan penukaran uang atau money changer Bank BRI di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang berbatasan dengan Papua Nugini, di Jayapura, Papua, 14 November 2017. Halaman depan Indonesia di ujung timur ini dipercantik pada pertengahan tahun ini. TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mencatat laba bersih konsolidasi pada 2017 sebesar Rp 29,04 triliun. Angka tersebut tumbuh 10,7 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu, yakni Rp 25,8 triliun

    Menurut Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI Haru Koesmahargyo perolehan laba tersebut mayoritas diperoleh melalui penyaluran kredit BRI, yang mampu tumbuh dobel digit. Pertumbuhan ini berada di atas rata- rata industri perbankan nasional.

    "BRI mencatat penyaluran kredit sampai akhir Desember 2017 ini mencapai Rp 739,3 triliun, tumbuh sebesar 11,4 persen dibandingkan dengan tahun lalu dengan nilai Rp 663,4 triliun," kata Haru di kantor pusat BRI, Jakarta, Rabu, 24 Januari 2018.

    Simak: Empat Merchant Terbaik Ini Dapat Penghargaan dari BRI 

    Haru meyakini sektor tersebut paling tahan terhadap perubahan makroekonomi. Dia menjelaskan, strategi BRI ke depan adalah meningkatkan dan berfokus pada mikro serta unit usaha kecil dan menengah. Berdasarkan data BRI, penyaluran kredit tertinggi didominasi untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan persentase 74,6 persen dari total portofolio kredit.

    "Capaian ini selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo, di mana perbankan diharapkan menjalankan fungsi intermediasi dengan memberdayakan para pelaku usaha mikro dan kecil," ujar Haru.

    Haru mengatakan BRI akan menargetkan portofolio kredit UMKM meningkat hingga 80 persen dari keseluruhan kredit BRI pada 2018. Penyaluran kredit saat ini masih didominasi kredit mikro Rp 239,5 triliun, kredit konsumer Rp 114,6 triliun, kredit retail dan menengah Rp 197,8 triliun, serta kredit korporasi Rp 187,4 triliun.

    Selain itu, menurut Haru, BRI berhasil menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 69,4 triliun kepada lebih 3,7 juta debitur baru selama periode Januari-Desember 2017.

    "Apabila dihitung mundur sejak KUR, skema baru diluncurkan pada Agustus 2015, BRI telah berhasil menyalurkan KUR skema baru senilai Rp 155 triliun kepada lebih dari 8,6 juta debitur," ucapnya.

    Lebih lanjut, Haru menilai penyaluran kredit yang tumbuh dobel digit tersebut beriringan dengan kinerja penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), yang juga tumbuh mencapai dobel digit. BRI mencatat, per akhir Desember 2017, DPK BRI secara konsolidasi Rp 841,7 triliun atau tumbuh 11,5 persen year-on-year (yoy).

    Selain itu, faktor lain yang ikut mendorong kinerja BRI adalah perolehan fee based income (FBI), yang tumbuh 13,2 persen yoy, dengan perbandingan pertumbuhan dari Rp 9,2 triliun pada akhir 2016 menjadi Rp 10,4 triliun pada akhir 2017.

    "Bank BRI terus meningkatkan porsi sumber pendapatan baru di luar pendapatan bunga karena trennya suku bunga ke depan akan semakin menurun," tutur Haru. Salah satu strateginya, kata Haru, dengan memperkuat transaction banking serta pemanfaatan digital banking.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.