Angkasa Pura II Garap Aerocity Bandara Kualanamu

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, (25/7). ANTARA/Septianda Perdana

    Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, (25/7). ANTARA/Septianda Perdana

    TEMPO.CO, Bandung -Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan, perusahaannya tengah menyiapkan proposal bisnis untuk pengembangan kawasan Aerocity bandara Kuala Namu, Medan, Sumatera Utara. “Kami sudah menyiapkan lahan clear and clean 200 hektare di Kualanamu yang bisa didorong untuk konsep Aerocity,” kata dia di Bandung, Senin, 22 Januari 2018.

    Awaluddin mengatakan, saat ini PT Angkasa Pura II tengah menyiapkan proposal strategic-partnership untuk pengembangan kawasan Aerocity di bandara Kuala Namu. “Aerocity itu konsep pengembangan kawasan di mana bandara menjadi pusatnya,” kata dia.

    Baca: Proyek Pengembangan Bandara Kualanamu Diincar 7 Investor

    Menurut Awaluddin, ada sejumlah alasan PT Angkasa Pura II berniat menggarap kawasan Aerocity bandara tersebut. Salah satunya untuk mendongkrak trafik bandara tersebut. “Saat ini kita butuh tambahan trafik,” kata dia.

    Awaluddin mengatakan, trafik penumpang di bandara Kuala Namu tahun lalu menembus 10 juta orang. Sementara potensi trafik penumpang penerbangan luar negeri masih belum optimal. “Trafik (penumpang) internasionalnya baru sekitar 16 persen. Sehingga tahun kemarin sekitar 10 juta passenger, jadi 16 persen itu baru 1,6 juta orang. Sisanya 8,4 juta orang itu domestik,” kat adia.

    Kerja sama strategis yang tengah disiapkan itu lewat konsep Aerocity diharapkan bisa mendongkrak trafik penumpang internasional di bandara Kuala Namu. “Kuala Namu punya potensi itu, apalagi Sumatera Utara saat ini menjadi pusat pertumbuhan nusantara. Ada jalan tol Sumatera, keberadaan pelabuhan Kualatanjung di sisi timur, dan Sibolga di sisi barat. Pengembangan kawasan Danau Toba yang sekarang jadi badan otorita sendiri ke depan akan punya prospek sendiri,” kata Awaluddin.

    Awaluddin mengatakan, sejumlah bisnis di kawasan Aerocity bandara Kualanamu tengah dijajaki untuk memaksimalkan potensi itu. “Diantaranya untuk bisnis komersial area, MRO (maintennance, repair, & overhoul) itu bisa dilaksanakan di situ. Kargo werehousing, kemudian sarana-sarana penunjang lain termasuk properti,” kata dia.

    Menurut Awaluddin, pengembangan Aerocity bandara Kualanamu butuh sokongan pemerintah daerah. Salah satunya untuk menyiapkan penataan ruangnya. “Pemda Sumatera Utara sangat eager. Dimanapun pemda sama, dimana ada bandara, dia ingin itu tumbuh, jadi triger untuk daerah lainnya,” kata dia.

    Awaluddin mengatakan, lahan yang disiapkan itu bagian dari lahan bandara Kualanamu. “Kami punya lahan di kawasan Kualanamu itu 1.400 hektare. Yang baru jadi bandara itu 800 hektare. Masih ada sisa 400 hektare lagi,” kata dia.

    Dia menargetkan, pembicaraan bisnis untuk mencari partner mengembangkan kawasan Aerocity bandara Kualanamu bisa tuntas dalam waktu dekat. “Mudah-mudahan bisa dikerjakan tahun ini. Kalau kita pengennya cepat. Mudah-mudahan Juli-Agustus sudah bisa bertemu dengan strategic-partner itu,” kata Awaluddin.

    Awaluddin enggan merinci calon partner itu. “Sekarang sedang kita jajaki. Kita juga mengundang banyak pihak, termasuk dari luar dan dalam negeri. Proposalnya sedang kita sempurnakan terus,” kata dia.

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyinggung rencana pengembangan Aerocity di Bandara Kualanamu oleh PT Angkasa Pura II di sela penandatangan kerja sama operasi perusahaan itu dengan PT BIJB dan pemerintah Jawa Barat di Gedung Negara Pakuan, Bandung, Senin, 22 Januari 2018. PT BIJB dan pemerintah Jawa Barat tengah menyiapkan kawasan Aerocity penopang bandara Kertajati di Majalengka.

    Angkasa Pura II juga akan menirunya di Kualanamu. Lagi berfikir untuk mengembangkan Aerocity,” kata dia, Senin, 22 Januari 2018. Bambang mengatakan, Aerocity merupakan kota mandiri yang berbasis bandara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.