Ini Daftar 10 Jenis Industri yang Bakal Serap Garam Impor

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garam Impor Disebar ke Industri Kecil-Menengah

    Garam Impor Disebar ke Industri Kecil-Menengah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk menyebutkan kalangan pengusaha optimistis menghadapi tahun 2018. Khususnya industri yang memanfaatkan garam sebagai bahan baku, mereka optimistis karena sudah ada kepastian impor komoditas itu dalam waktu dekat.

    Sebelumnya, pemerintah sudah memberikan kepastian pasokan garam dengan kuota impor 3,7 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dari perhitungan asosiasi, yang menghitung kebutuhan garam nasional secara keseluruhan, termasuk sektor industri makanan dan minuman, 4,2 juta ton.

    Baca: Pemerintah Akan Permudah Impor Garam untuk Industri

    “Tapi industri ini kan berkembang, seperti industri pangan yang juga berkembang, bergantung pada permintaan," ujar Tony di Jakarta, Jumat, 19 Januari 2018. "Artinya, kalau itu dipenuhi, ya, memang kebutuhan terhitung yang diperlukan sekitar 4,2 juta ton."

    Jika dilihat dari total kebutuhan garam nasional untuk industri, kecuali industri makanan dan minuman, tahun ini 3,77 juta ton. Angka terbesar kebutuhan berasal dari industri petrokimia yang memerlukan 1,78 juta ton garam. Peringkat kedua adalah industri pulp dan kertas dengan kebutuhan 708,5 ribu ton garam.

    Lalu di peringkat ketiga adalah industri aneka pangan yang mengolah garam dengan kebutuhan 535 ribu ton dan industri pengasinan ikan di posisi keempat yang memerlukan 460 ribu ton garam. Data AIPGI juga menyebutkan industri pakan ternak dan industri penyamakan kulit masing-masing membutuhkan 50 ribu ton garam. 

    Selain itu, industri tekstil dan resin serta industri sabun dan detergen tercatat memerlukan 30 ribu ton garam. Sementara kebutuhan garam untuk industri farmasi dan kosmetik mencapai 6.846 ton per tahun. Tak hanya itu, ada industri lain-lain yang tercatat membutuhkan sekitar 50 ribu ton garam.

    Tony menjelaskan, pemerintah juga mempunyai mekanisme tersendiri untuk melihat perkembangan kebutuhan garam. “Saat ini baru awal tahun, nanti juga pemerintah akan melakukan evaluasi. Selain itu, kita belum tahu produksi garam nasional berapa. Nah, itu nanti hasilnya akan dikombinasikan,” tuturnya.

    Lebih jauh, Tony berharap mekanisme pengadaan garam tetap harus mengacu pada tiga faktor penting yang selama ini menjadi acuan pelaku usaha. “Pertama adalah kualitas, kedua harga, dan yang ketiga adalah kontinuitas supply,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.