Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen, OJK Genjot Peran Jasa Keuangan

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 28 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putr

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Jumat, 28 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putr

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya meningkatkan peran sektor jasa keuangan untuk menggenjot pertumbuhan nasional. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengklaim saat ini, kondisi makroekonomi dan sektor jasa keuangan tengah berada dalam kondisi yang kondusif.

    “Kami yakin sektor jasa keuangan mampu mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen,” katanya dalam acara pertemuan tahunan Industri Jasa Keuangan 2018 di Jakarta, Kamis, 18 Januari 2018.

    Baca: Wimboh Santoso Ditunjuk Pimpin Masyarakat Ekonomi Syariah 

    Menurut dia, sejumlah indikator sektor jasa keuangan tengah menunjukkan performa yang solid, baik dari sisi pemodalan, likuiditas, maupun tingkat risiko yang terkendali. Permodalan lembaga jasa keuangan, kata Wimboh, juga terpantau kuat sampai Desember 2017.

    Misalnya pada Capital Adequacy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal perbankan, kata Wimboh, berada di level 23,36 persen. "Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi umum dan asuransi jiwa juga berada di level tinggi, yaitu 310 persen dan 492 persen," ucapnya.

    Kuatnya permodalan perbankan ini, kata Wimboh, juga diikuti dengan likuiditas yang memadai. Pada Desember 2017, rasio Alat Likuid per Non-Core Deposit (AL/NCD) perbankan tercatat sebesar 90,48 persen, di atas ambang batas atau threshold sebesar 50 persen. "Sementara excess reserve atau kelebihan saldo perbankan tercatat di kisaran Rp 626 triliun," kata Wimboh.

    Terakhir, kondisi yang solid ini juga ditunjukkan oleh tingkat risiko kredit yang terkendali dengan rasio NPL 2,59 persen gross (1,11 persen net). "Trennya terus menurun." Selain itu, kata Ketua OJK Wimboh Santoso, Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan pun turun menurun menjadi 2,96 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.