Korsel Bangun Pabrik Smelter Nikel di Konawe Utara

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Smelter. metallerochgruvor.se

    Ilustrasi Smelter. metallerochgruvor.se

    TEMPO.CO, Jakarta - PT MBG Nikel Indonesia, anak perusahaan pertambangan asal Korea Selatan (Korsel), Made By Good (MBG) Group, memulai pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp 76 triliun.

    “Kami memberikan apresiasi kepada pemerintah Kabupaten Konawe Utara yang berperan serta dalam menarik investor dari sektor industri,” kata Direktur Pengembangan Wilayah Industri I Kementerian Perindustrian, Arus Gunawan, di Jakarta, Rabu, 17 Januari 2018.

    Arus menyampaikan, pihak perusahaan sudah melakukan peletakan batu pertama pada 2 Januari 2018 lalu. Pada kesempatan tersebut, Arus turut hadir menyaksikan prosesnya bersama Bupati Konawe Utara Ruksamin, Presiden Direktur MBG Group Lim Dong Pyo, dan Komisaris PT MBG Nikel Indonesia, Jang Jongsoo.

    Baca juga: Proyek Smelter Alumina Antam-Inalum Ditargetkan Rampung 2019

    Rencananya, pembangunan pabrik smelter nikel ini akan selesai dalam dua tahun ke depan secara bertahap dan ditargetkan dapat menyerap ribuan tenaga kerja. Selain itu, luas lahan yang digunakan sekitar 311 hektare. 

    Sementara itu, Presiden Direktur MBG Group Lim Dong Pyo mengungkapkan, pihaknya antusias dan optimistis dalam berinvestasi di Indonesia, khususnya di Konawe Utara.

    “Kami senang dengan sambutan masyarakat di sini. Ini menjadi kampung halaman kedua kami. Karena sambutan yang sangat luar biasa ini, kami ingin lebih cepat membangun pabrik smelter nikel di Konawe Utara,” ujarnya.

    Sejak MBG berdiri selama sembilan tahun di Korea Selatan, Indonesia tercatat sebagai negara ketiga lokasi investasi smelter setelah Amerika dan Rusia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.