Rudiantara: Jangan Sampai 4 Startup Unicorn IPO di Luar Negeri

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada pemaparannya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. Rapat ini membahas konten negatif di internet, registrasi ulang kartu prabayar dan perkembangan infrastruktur sektor telekomunikasi dan penyiaran di daerah perbatasan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada pemaparannya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. Rapat ini membahas konten negatif di internet, registrasi ulang kartu prabayar dan perkembangan infrastruktur sektor telekomunikasi dan penyiaran di daerah perbatasan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengharapkan otoritas pasar modal Indonesia merumuskan aturan bagi perusahaan rintisan (startup) yang menyandang status unicorn untuk dapat melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

    "Kalau mereka mau go public di sini, aturannya harus dibuat karena sementara ini tidak ada aturan khusus untuk model bisnis seperti ini," ujar Rudiantara dalam seminar "Indonesia Outlook: How We Strive in Sharing Economy Era" di Jakarta, Rabu, 17 Januari 2018.

    Baca: Kaleidoskop 2017: Modal Cina Mengalir ke Startup dan e-Commerce

    Rudiantara menyebutkan, startup sebetulnya masih merugi, tapi di luar negeri bisa melantai di bursa dan valuasinya terus membaik. "Sementara di Indonesia maunya berinvestasi di perusahaan untung. Padahal, game-nya kan dari apresiasi harga saham," ujarnya.

    Oleh karena itu, kata Rudiantara, semua ekosistem yang terkait dengan pasar modal, baik masyarakat atau investor, pengelola dana, serta pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia harus memiliki pandangan yang sama.

    Rudiantara menjelaskan, salah satu faktor yang menjadi kendala bagi unicorn melakukan IPO yakni mengenai valuasi harga saham. Sementara penilaian perusahaan unicorn yang mayoritas bidang digital ada pada ekosistemnya yang bisa meningkatkan ekspektasi masyarakat.

    Menanggapi hal itu, Rudiantara berharap pemerintah bisa segera menyiapkan ekosistem yang baik. "Apalagi kita sudah punya empat unicorn. Jangan sampai IPO di luar (negeri selain Indonesia) yang memberi insentif lebih banyak," katanya.

    Saat ini Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah berfokus untuk menambah jumlah unicorn di Indonesia. Pada 2019 mendatang, Rudiantara yakin bakal ada lebih dari lima perusahaan di Indonesia yang bakal menyandang status unicorn. "Sekarang kan ada empat, pada 2019 ada lima. Dengan strategi yang tepat akan lebih dari lima unicorn," ucapnya.

    Sebagai upaya menambah jumlah unicorn, Rudiantara mengatakan bahwa pihaknya memiliki program Next Indonesia Unicorn. Dengan program itu, diharapkan perusahaan startup di Indonesia dapat meraih modal dari investor.

    Pasalnya, menurut Rudiantara, selama ini perusahaan startup kesulitan mencari investor. "Yang dilakukan adalah menjadi penengah antara startup di Indonesia, dilakukan penyeleksian, diinkubasi, lalu ajak roadshow ketemu investor, baik dalam maupun luar negeri."

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.