Minggu, 27 Mei 2018

Banyak Peminat, Daster Batik Tembus Timteng hingga Negara Latin

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah perajin memproduksi batik di Pekalongan, Jawa Tengah, 30 Oktober 2017. Batik pekalongan tidak hanya kesohor di dalam negeri saja, namun juga di mancanegara, seperti Amerika, Jepang dan Eropa yang telah menjadi peminatnya, yang dijual dari harga 75 ribu rupiah hingga puluhan juta. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    Sejumlah perajin memproduksi batik di Pekalongan, Jawa Tengah, 30 Oktober 2017. Batik pekalongan tidak hanya kesohor di dalam negeri saja, namun juga di mancanegara, seperti Amerika, Jepang dan Eropa yang telah menjadi peminatnya, yang dijual dari harga 75 ribu rupiah hingga puluhan juta. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    TEMPO.COPEKALONGAN - Beberapa negara di Asia Tenggara jadi andalan ekspor kain sarung batik asal Pekalongan, Jawa Tengah.

    Sekretaris Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Pekalongan Arief Wicaksono mengatakan selama ini, kain sarung batik Pekalongan masih mendominasi ekspor ke sejumlah negara kawasan Asia Tenggara.

    "Seperti Malaysia dan Brunei Darussalam," katanya, di Pekalongan, Minggu 14 Januari 2018.

    Ia mengatakan kendati permintaan konsumen terhadap kain sarung batik sedikit mengalami penurunan akibat adanya krisis global tetapi negara di kawasan Asia Tenggara masih menjadi tujuan utama sasaran ekspor produk kerajinan batik.

    Simak: Pusat Batik Internasional Akan Berdiri di Pekalongan

    Selain kain sarung batik, kata dia, Asephi juga mengekspor produk kerajinan lain seperti daster dan batik rayon ke sejumlah kawasan Timur Tengah, Afrika, Amerika Serikat, Australia, dan Amerika Latin.

    "Kain sarung batik, daster, dan batik rayon masih banyak diminati pasar mancanegara. Oleh karena, kami selalu mengusahakan produk batik yang terbaik untuk kembali menambah pangsa pasar di luar negeri," katanya.

    Ia mengatakan adanya krisis global memang cukup berpengaruh besar terhadap daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik sehingga pelaku batik harus bisa meningkatkan krasi dan inovatif agar kerajian batik tetap bertahan dan diminati konsumen.

    "Daya beli masyarakat terhadap produk kerajinan batik turun pada 2017 dan tampaknya belum pulih hingga sekarang. Hal itu juga berpangaruh terhadap penurunan produksi batik hingga mencapai 10 persen-20 persen," katanya.

    Menurut dia, turunnya daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik memang tidak hanya terjadi di Kota Pekalongan tetapi juga hampir merata di sejumlah negara tujuan ekspor.

    "Kendati demikian, pada tahun ini kami memperkirakan daya beli masyarakat akan meningkat lagi karena faktor keamanan dan kenyamanan, serta kebijakan pemerintah yang cukup baik dalam upaya menggeliatkan ekspor," katanya.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Merapi Kembali Menunjukkan Tanda-Tanda Letusan Magmatis Pada 2018

    Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia, ini rekaman sejarah erupsi Merapi menurut Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.