Langkah Kemenperin Gaet Investor di Tahun 2018

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih (kanan) serta CEO PT Ruang Raya Indonesia (ruangguru.com) Adamas Belva Devara (kiri).

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih (kanan) serta CEO PT Ruang Raya Indonesia (ruangguru.com) Adamas Belva Devara (kiri).

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, sepanjang tahun lalu atau hingga 14 Desember 2017, komitmen investasi baru yang masuk ke Indonesia mencapai US$ 42,6 miliar dengan jumlah 1.054 proyek. Capaian ini mengalami kenaikan 23,7 persen dibanding tahun 2016. Karena itu, Airlangga ingin pemerintah terus menciptakan iklim usaha yang kondusif.

    “Serta memberikan kemudahan berbisnis di dalam negeri agar para investor meningkatkan penanaman modalnya di Indonesia dalam membangun perekonomian nasional yang lebih inklusif dan berkualitas,” kata Airlangga, dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Jumat, 12 Januari 2018.

    Baca: Kenapa Investasi Reksadana Disebut Cocok untuk Generasi Milenial? 

    Airlangga menjelaskan, sektor perindustrian memberikan kontribusi tertinggi terhadap realisasi investasi di sektor ini, yang mencapai US$ 21,6 miliar dengan 256 proyek. Sementara itu, sektor pariwisata menyumbang US$ 17 miliar dengan 159 proyek, lalu pekerjaan umum dan perumahan rakyat US$ 1,2 miliar dengan 98 proyek.

    Selanjutnya, sektor energi dan sumber daya mineral US$ 1,18 miliar dengan 32 proyek, perdagangan US$ 0,92 miliar dengan 427 proyek, dan pertanian US$ 0,27 miliar dengan 22 proyek, serta sektor lain sebesar US$ 0,43 miliar dengan 60 proyek.

    Airlangga menegaskan, pihaknya bersama dengan pemangku kepentingan terkait terus berupaya meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi di sektor industri. Hal itu dilakukan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif dan kepastian hukum, penggunaan teknologi terbaru untuk mendorong peningkatan mutu, efisiensi, dan produktivitas, serta pemberian fasilitas berupa insentif fiskal.

    Tak hanya itu, upaya tersebut didukung juga dengan ketersediaan bahan baku, harga energi yang kompetitif, sumber daya manusia kompeten, serta kemudahan akses pasar dan pembiayaan. “Pertumbuhan konsumsi juga perlu dijaga dan kembali ditingkatkan agar permintaan terhadap produk-produk industri semakin meningkat,” ucap Airlangga. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.