JK Sebut Stok Beras Belum Aman Karena...

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi keterangan pers di Kantor Wapres, 19 Desember 2017. Tempo/Amirullah Suhada.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi keterangan pers di Kantor Wapres, 19 Desember 2017. Tempo/Amirullah Suhada.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa stok beras yang ada saat ini belum aman karena volumenya masih di bawah angka 1 juta ton. "Kalau perhitungan kami, stok beras itu harus di atas 1 juta ton," ujar pria yang akrab disapa JK ketika ditanyai awak media, Selasa, 9 Januari 2018.

    Akibat belum amannya stok beras itu yang kemudian diduga menjadi pemicu kenaikan harga komoditi tersebut di awal tahun ini hingga melebihi harga beras di periode yang sama tahun 2017. Di Pasar Induk Beras Cipinang, harga beras jenis medium pada akhir pekan lalu mencapai Rp 10.500 sampai Rp 11.500 per kilogram. Tahun lalu, harga beras pada awal 2017 sekitar Rp 9.500 per kilogram.

    Baca: Tekan Harga, Bulog Sebar 1.800 Titik Operasi Pasar Beras

    Menurut sejumlah pedagang di Pasar Induk Cipinang, kenaikan harga beras sudah terasa sejak November 2017 lalu. Di periode itu, harga beras medium sudah melampaui level Rp 9.500 sementara harga eceran tertinggi ditetapkan Rp 9.450 per kilogram.

    Adapun penyebab kenaikan harga beras itu adalah pasokan dari daerah penghasil padi yang minim. Daerah-daerah penghasil padi yang terkenal, terutama di Pulau Jawa, adalah Karawang, Subang, dan Indramayu.

    Meski begitu, JK masih optimistis stok beras akan bertambah ke angka normal dalam waktu dekat. Sebab, ada sejumlah panen baru pada bulan Januari ini.

    Jika panen itu terwujud, kata JK, dipastikan stok beras bisa terpenuhi dan harganya kembali normal. Namun, ia menyatakan bahwa pemerintah tetap mengantisipasi skenario terburuk yaitu harga beras tetap naik dua hari ke depan.

    Antisipasi skenario terburuk itu dilakukan dengan membuka pintu impor beras. "Kami tidak mau ambil risiko. Kalau satu dua hari masih naik harganya, maka opsi impor terbuka," ujar JK yang mengakui bahwa impor akan diambil jika stok tak tercukupi dan harga makin tak terkendali.

    Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti membenarkan bahwa stok beras terakhir masih di bawah angka 1 juta ton. Sejauh data yang ia terima, ada 930 ribu ton beras di Indonesia. "Tapi, stok beras itu kan selalu dinamis. Stok tadi pagi belum tentu besoknya sama," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.