Menteri Enggartiasto Ancam Tangkap Spekulan Beras

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi beras Bulog. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi beras Bulog. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pemerintah tidak segan menindak tegas para pedagang yang menimbun beras atau spekulan beras yang merugikan masyarakat. Enggartiasto juga mengatakan para spekulan dan pedagang yang menimbun beras menjadi salah satu sebab harga beras tak kunjung stabil.

    "(Kalau ketahuan) tangkap. Enggak ada urusan. Ini ada Satgas Pangan. Makanya kami keras, karena itu adalah upaya-upaya spekulatif yang merugikan rakyat. Kami tidak akan mentoleransi itu," ucap Enggartiasto di gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta, pada Selasa, 9 Januari 2018.

    Enggar berharap, operasi pasar akan menghilangkan para spekulan. "Hanya, persoalannya sekarang buat pengusaha atau buat mereka spekulan ini, ngapain juga (melakukan perbuatan spekulatif) karena berasnya sudah tersedia (lewat operasi pasar)," ujarnya.

    Meskipun demikian, untuk saat ini, Enggar akan lebih berfokus melakukan intervensi pasar. Karena itu, Kementerian Perdagangan lewat Bulog telah menyiapkan berapa pun beras yang dibutuhkan sesuai dengan permintaan, agar harga beras bisa stabil. "Penetrasi aja dulu. Masak sih udah dipenetrasi segitu gedenya enggak turun," tuturnya.

    Kementerian Perdagangan hari ini menggelar operasi pasar beras medium milik Bulog di gudangnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 9 Januari 2018. Dalam gelaran operasi pasar tersebut, hadir Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti, Kepala Satuan Tugas Pangan Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin, dan perwakilan dari para stakeholder perberasan.

    Enggartiasto menjelaskan, untuk menstabilkan harga beras, Kementerian telah mewajibkan semua pedagang beras yang ada di pasar Indonesia untuk menjual beras medium milik Bulog mulai hari ini. Karena itu, menurut dia, kalau ada pedagang yang tidak bersedia menjual beras tersebut, patut diduga yang bersangkutan menikmati kenaikan harga beras yang tidak wajar.

    Lalu, ia juga mengatakan operasi pasar kali ini merupakan bagian dari perluasan titik yang akan jual beras Bulog dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET) atau senilai Rp 9.450 per kilogram. Selain itu, untuk segera menstabilkan harga, Bulog telah menambah titik distribusi beras medium dari 1.100 pada akhir 2017 menjadi 1.800 di awal Januari 2018.

    Enggartiasto berujar, ia akan memonitor distribusi, penjualan, dan harga beras medium ke pasar. Selain itu, ia mengaku telah menggandeng stakeholder perberasan dalam melakukan distribusi, penjualan, dan penentuan harga beras medium milik Bulog hasil operasi pasar.

    "Saya pastikan ada 1.500 anggota staf Kementerian Perdagangan di daerah (untuk memantau) didampingi Satgas Pangan serta Divre dan Subdivre Bulog. Kami langsung penetrasi ke pasar, termasuk distributor yang memiliki jaringan ke pasar," ucap Enggartiasto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.