Tahun Politik, BPR Diyakini Bakal Tumbuh 12 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Bank Indonesia menghitung dan memeriksa uang Rupiah tidak layak edar dari berbagai pecahan yang ditukarkan oleh masyarakat di loket Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas Bank Indonesia menghitung dan memeriksa uang Rupiah tidak layak edar dari berbagai pecahan yang ditukarkan oleh masyarakat di loket Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Surabaya - Pertumbuhan Bank Perkreditan Rakyat atau BPR tahun ini diperkirakan mencapai 10-12 persen. Angka ini melampaui pencapaian tahun lalu sebesar 9-10 persen.

    “Data terkini memang belum kami pegang, tapi tahun 2017 pertumbuhan ada di level 9-10 persen. Itu secara overall baik, dari aset sampai kredit. Dan tahun 2018 akan naik menjadi 10-12 persen,” kata Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyantodi di Surabaya, Selasa, 9 Januari 2018.

    Baca: OJK Resmi Cabut Izin Usaha BPR KS Bali Agung Sedana

    Seusai penandatangan kerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri di salah satu hotel di Surabaya hari ini, Joko menyatakan optimistis BPR akan tetap tumbuh tahun ini. Meskipun 2018 merupakan tahun politik, BPR tetap tumbuh positif karena masih dibutuhkan masyarakat.

    Meski begitu, Joko menyebutkan ada sejumlah sektor kredit yang perlu diperhatikan pengembangannya oleh BPR. "Tahun 2018 merupakan tahun politik, tapi masih ada peluang dan tantangan, sehingga bisa berkembang normal. Kami optimistis bisa tumbuh dengan baik," ucapnya.

    Sepanjang 2017, dana pihak ketiga (DPK) BPR tercatat naik 10-12 persen. Adapun sektor yang berpotensi menjadi sasaran kredit BPR adalah perdagangan. "Perdagangan permintaannya paling tinggi dan akan tetap mendominasi pada 2018, karena sektor itu lebih dinamis serta mampu melalui dinamika ekonomi di Indonesia," ujar Joko. Sektor perdagangan pada 2017 mendominasi sebesar 46 persen. Sisanya adalah sektor pertanian, peternakan, industri kecil, jasa, dan pelayanan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).